TA'AWANU 'ALAL BIRRI

Minggu, 04 Juli 2010

Azab Sakaratul Maut

"Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri". (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

Datangnya Kematian Menurut Al Qur'an:

1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.

Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam
hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. [QS Ali Imran, 3:154]


2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? [QS An-Nisa 4:78]

3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". [QS al-Jumu'ah, 62:8]

4. Kematian datang secara tiba-tiba.

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [QS, Luqman 31:34]

5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat.

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS, Al-Munafiqun, 63:11]


Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut



Sabda Rasulullah SAW :
"Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang" (HR Tirmidzi)

Sabda Rasulullah SAW :
"Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?" (HR Bukhari)


Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW

Ka'b al-Ahbar berpendapat : "Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa".

Imam Ghozali berpendapat : "Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki".

Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. "Wahai manusia !", kata pria tersebut. "Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku."


Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.

Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana
Allah.



To be countinued......


~ * * * ~

Wallahu a'lam bish-shawab.
Dicatat oleh abiumar

KAMIPUN TAK BISA BERPALING

oleh bunda fatma elly

kubuat syair untuk kalian
ranah kasih suciku tertabur
menghunjam rambat jauh ke dalam
di lubuk indah tanah mencengkeram

menebar benih menabur
menuai hasil menghibur

dalam tinta darah menyala
sebaris bait kalimat
rangsang inginku menikmat


kulihat itu semua
kusapa itu semua
gelora sukmaku membara

hai…siapa mereka
tanya hatiku berdebar
tatap wajahmu gemintang
di atas pandang menantang
bunga rasaku bersinar
membias binar berpendar
terlontar pesona menebar

anak muda… gumamku
sepuluh nama…sanggup mengubah
cakrawala hati manusianya..jadi berubah..
berubah, mengubah
mengubah, berubah

hati kagumku menyatu
dalam peluk rinduku berseru
bukankah mereka kekasih-kekasih Allah?
singa-singa berakal sehat
dalam mimbar ciptaNya
di atas puspa kembangnya
di kilau kencana
gerak tindaknya
nan ikhlas rida

pegun tertegun
tegak menegak
peka diriku terangsang
nyeruak masuk merasuk
rongga jiwaku membentuk
nuansa ke depan..gemilang

ah…anak-anakku…
mari beriring bergandeng tangan
sama mengerling kebesaran-Nya
sama bersanding dengan-Nya
kobarkan semangat korban meluruhsuruh... pada-Nya..

bersimpuh... terpana atas Besar-Nya

dan kamipun memang tidak bisa berpaling…

tertabur rasa dalam jiwa
tersemai benih atas sukma
tertuai harum dalam bunga
terpetik ranum atas buah

pohonpun menghunjam kuat
di bumi pijakan
tegar menegak di keseluruhan akar.. batangnya
dikehijauan tumbuh... rumun daunnya
di kerimbunan teduh payung tudungnya
peneduh kelana sang musafir cinta…

duh Tuhanku
menyimpuh rubuh kami dalam takluk
merebah tubuh dalam tunduk
menyembah sujud dalam takut
di pintuMu kami mengetuk

apa yang tergapai, belum tercapai
apa yang menjadi, belum mengisi
perjalanan ruhani masih panjang
persinggahan jasmani belum sampai

dalam titi tuju terangMu
hati diri hanya bagiMu
jalan menapak semakin nyeruak
gerak tindak terus tergerak
di atas jejak tetap menanjak
melangkah bersama
dalam derap rapi baris-Nya
menabur makna atas pikir
menakar isi atas hikmah
menoreh laku atas baik

bukit gunung itupun terhampir..

di sanalah kita berparkir
medan kebahagiaan sejati
menanti
dalam pesta wangi surgawi…


wallahu 'alam

terimalah puisiku dengan salam cintaku
berkah dan rahmat untuk kalian...'amiin...

SEPERCIK SERPIHAN

oleh Fatma Elly (catatan) 29 Mei 2010 jam 20:58
sepercik serpihan
oleh: fatma elly


1

rasa itu sembunyi
di lubuk hati
mengikuti di setiap pergi
oh Tuhanku
Engkau memang mempesona
di atas kuasa-Mu
perkasa

siapa tak sadar tuk memuja
besar agung-Mu tuk dicinta
api cintaku membenam
di keharibaan-Mu
aku Kau genggam

dan aku tidak bisa berpaling
pada setiap aku mengerling…


2

titik air beningku berlinang
tawa cerah jiwaku menghilang

kutatap lemah khilaf dosaku terpampang

sesak nafas leherku mencekik
garang pekik teriakku meradang
lintangmelintang
alang kepalang

duh Tuhanku

saat rahmat menyapa
kutersedar dari lupa
Kau tetapkan atas diri-Mu kasih dan sayang
asaku menebar
memancar sinar berpendar
di setiap rumah kamar hatiku bersinar
benderang cahaya-Mu menyebar

3

selimut diriku menyelimut
terlelap aku digiur mimpi

beku tubuhku terbaring
layaknya mati di pembaringan

berguling sedikit tiada arti
di tengah gelimang keterlenaan

hai orang berselimut
bangkit dan bangunlah

suara itu berkumandang
menyeru dan memerintah

sambutlah pagi dengan cahaya
bunuh lelapmu dengan segera

dan aku tergagap engah
kulempar selimut dari tidurku
kubuka topeng dari wajahku
dan akupun bangkit!

sadar membangkitkanku dari kelelapan
salat dan ingat
fungsi baikku bagi kehidupan

ya Allah...
kusongsong engkau dan kusambut!


wallahu 'alam..

Benarkah al-Qur’an yang ada hari ini masih asli, dan tidak ada perubahan!?

Communication By ~Jeanny Dive~
Bumi Allah, 1 Juni 2010.


Bismillaahir rohmanir rohiim
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wa barokaatu.


Saudara-saudariku kekasih Rasulullah SAW yang Jean cintai karena Allah…

Sungguh sangat banyak tulisan ‘ngaco’ yang menyesatkan di alam maya ini, dan menuduh sekaligus memfitnah al-Qur’an kita tercinta mereka katakan sudah TIDAK ASLI. !?Astaghfirullaah..!!!

Untuk itu kami berkewajiban menjawab tuduhan dan fitnah itu dengan keterangan yang sebenar-benarnya, serta silakan bagi saudara-saudariku memanfaatkan hujjah berikut ini :

AL-QUR’AN YANG ADA HARI INI ADALAH OTENTIK, yaitu sama persis yang ada pertama kali tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikit pun.

Menurut Dr. Subhi Salih, “Al-Qur’an berasal dari kalimat qaraa yang berarti
bacaan. Ia merupakan qalam Allah berbentuk mu’jizat yang diturunkan kepada Rasulullah saw dan ditulis di atas mushaf melalui riwayat yang mutawatir dan membacanya merupakan ibadah.”

KEMURNIAN AL-QUR’AN TERPELIHARA MELALUI 4 CARA :

1. Sahabat-sahabat Rasulullah menulis wahyu secara terus menerus seperti yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Para penulis wahyu yang terkenal, yaitu Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Muaz bin Jabal, Muawiyah bin Abu Sofyan dan Khalifah yang empat.

2. Di kalangan para sahabat banyak yang hafal al-Qur’an secara menyeluruh.

3. Kesemua sahabat yang bukan hafidz sebagian al-Qur’an untuk dibaca di dalam sholat mereka masing-masing.

4. Sebahagian sahabat mempunyai catatan al-Qur’an untuk rujukan pribadi sesuai dengan peringkat wahyu turun.

PADA ZAMAN KHALIFAH ABU BAKAR RA, catatan-catatan al-Qur’an ini dihimpun kemudian ditulis ulang pada lembaran khusus oleh Zaid bin Tsabit kemudian di simpan oleh Khalifah Abu Bakar ra. Ketika menulisnya, Zaid bin Tsabit menggunakan metode yang sangat teliti. Lembaran yang beliau salin hanyalah lembaran yang betul-betul ditulis oleh yang bersangkutan dihadapan Rasulullah saw, dan untuk setiap lembaran yang akan disalin, kembali beliau meminta dua orang dari kalangan sahabat yang hafidz al-Qur’an untuk menjadi saksi dan mengesahkan kebenaran catatan pada lembaran tadi.

SETELAH KHALIFAH ABU BAKAR WAFAT, Khalifah Umar bin Khatab menyimpan mushaf ini, dan setelah beliau wafat mushaf ini diserahkan kepada salah seorang istri Rasulullah saw, Ummul Mukminin Hafsah. Pada zaman Khalifah Utsman ra, atas nasihat seorang sahabat, Hudzaifah bin Yaman ra, lembaran yang ada pada Ummul Mukminin Hafsah diambil untuk disalin kembali dan dibukukan secara resmi.

Orang yang terlibat dalam pembukuan al-Qur’an ini adalah sahabat Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin As, dan Abdurrahman bin Harits. Lima naskah ditulis dan di antar ke Makkah, Syria, Kufah, Barah, dan satu lagi di tinggal di Madinah.

NASKAH YANG ADA DI MADINAH KEMUDIAN DIBAWA OLEH TENTARA TURKI KE ISTAMBUL SEBELUM DIPINDAHKAN KE BERLIN PADA PERANG DUNIA I. Akhirnya naskah tersebut dikembalikan ke Istambul melalui Perjanjian Versailles selepas PD I dan hingga hari ini berada disana. Sebuah lagi naskah yang ditulis pada zaman Khalifah Utsman tersebut disimpan di Samarkand pada tahun 1485M. Kemudian, pada tahun-tahun 1924 naskah tersebut dibawa ke Tashkent, Uzbekistan dan bertahan hingga saat ini.

SUBHANALLAH, PADA TAHUN 1965, PAKAR-PAKAR ARKEOLOGI MENEMUKAN MANUSKRIP AL-QUR’AN YANG DITULIS PADA ABAD PERTAMA HIJRAH DI MASJID SANAA, YAMAN. Masjid ini didirikan pada zaman Rasulullah saw, yakni abad ke-enam hijriyah. Sebagian manuskrip yang ditemukan di sana diyakini ditulis oelh Sayidina Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, dan Salman al-Farisi. Pihak UNESCO mengeluarkan CD khas karena penemuan ini berkenaan dengan program ‘Memory of the World’ yang diadakan baru-baru ini.

Wahai saudara-saudariku kekasih Rasulullah SAW tercinta rahimakumullaah…

SUNGGUH SEMUA HAL ITU MEMBUKTIKAN BAHWA AL-QUR’AN TERUS TERPELIHARA HINGGA HARI INI. Sehubungan dengan ini, Sir William Muir berkata, “Kemungkinan besar tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang mampu bertahan seperti al-Qur’an selama 12 abad (kini 15 abad) dalam keadaan asli.”

Professor Laura Veccia Vaglieri di dalam bukunya “An Interpretation of Islam”, mengatakan : “Satu lagi bukti yang menunjukkan al-Qur’an sebenarnya datang dari Tuhan adalah kesucian teksnya yang tidak pernah tercemar berabad-abad hingga hari ini, dan saya yakin ia akan kekal sampai kapan pun.”

KREDIBILITAS HISTORIS AL-QUR’AN :

Pada zaman modern ini, segala hal termasuk kitab suci tidak lepas dari investigasi atas keotentikannya. Satu cabang ilmu telah lahir, yaitu historical criticisme, yang melakukan kritisisme kelas tinggi terhadap berbagai hal yang mengundang kebenaran sejarah. Dengan metode ini dilakukan uji kritis atas semua kitab suci, termasuk al-Qur’an dan Injil.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa HANYA AL-QUR’AN yang memiliki kredibilitas histories, artinya al-Qur’an adalah kitab yang benar-benar asli, tidak ada rekayasa siapapun dalam perkembangannya. Sebaliknya kitab-kitab lain disimpulkan sebagai kitab-kitab dogmatis yang keotentikan historisnya sangat jauh.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam .” (QS. Yunus {10}:37).

Shadaqallahul’adzhiim…
Sungguh Mahasuci Allah dengan segala kehendak-Nya.


Billahit-taufiq wal-hidayah,
Wassalamu’alaykum wr.wb.

SEDIKIT CUPLIKAN

oleh Fatma Elly (catatan) 05 Juni 2010 jam 16:40
Audzubilllahiminassyaitonirrajiim
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakaatuh

Alhamdulillah dalam situasi seperti ini, kucuplik sebuah tulisan dari buku: “Kenapa Palestina; Renungan Seorang Ibu”, Establitz, November 2008

Semoga cuplikan ini bisa membawa dan mendatangkan manfaatnya…’amiin..

Buku tersebut, sebagai suatu Rangkuman Visual, kubuat berdasarkan ibrah yang kuambil dari Al Qur’an, Hadis, Sirah Nabawy, dan referensi buku sebanyak enampuluhan, dan 71 kepustakaan. Yang menyangkut masalah internal umat Islam, selain eksternal mereka yang berada di luarnya.

Terutama masalah Palestina itu sendiri…yang kuanggap bukan hanya masalah bangsa/rakyat Palestina, Arab dan kaum muslimin saja, tapi juga masalah kemanusiaan.

Di mana kita yang memiliki secercah rasa…tentunya tak bisa berlepas diri. Merasa acuh terhadap kondisi rakyat/bangsa Palestina yang terjajah dan tertindas semenjak puluhan tahun yang lalu.

Bahkan mungkin lebih, pada saat ia berada di bawah protektorat Inggris. Dan menjadi ladang perebutan dan pergulatan di antara
bangsa-bangsa…

Baik Inggris itu sendiri, Perancis, Rusia maupun Amerika Serikat..apalagi Israel…

Buku ini lebih banyak berbicara masalah historis dari semenjak sebelum Masehi hingga ke Awal Masehi, abad Pertengahan, dan saat terjadi Declaration of Balfour..bahkan sampai masa kini…dengan segala hiruk-pikuk permasalahannya yang tidak juga selesai.

Meski ada beberapa resolusi yang ditelurkan PBB. Baik 181, 242, 338, dan sebagainya lagi, yang sampai saat ini hanya merupakan kata di atas kertas..tanpa bukti yang nyata dalam realitas pelaksanaannya.

Yang membuat kita miris dan sedih di atas pemikiran akan nasib rakyat Palestina itu sendiri.

Kuharap sebetulnya, buku ini patut dibaca sebagai wawasan sejarah, politik, sosial dan budaya, juga ideologi dan agama. Meski di sana di sini dibumbui hingga seperti suatu campur sari yang intinya juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Jasmani maupun rohani.

Sebagaimana laiknya karakter aku di dalam menulis sesuatu. Yang tak lepas dari nuansa fiksi dan non fiksinya.

Karena bagiku..visi dan misi, informasi dan nilai-nilai ajaran yang dikandung, yang terdapat dalam buku, jika kiranya nyambung dan dipahami pembaca serta disukainya..cukuplah…

Selamat membaca, dan insyaallah berkenan adanya.

Bilamanapun tidak, kumohonkan maaf atasnya..

Billahi taufik wal hidayah..fatma elly…


SEDIKIT CUPLIKAN

Oleh: Fatma Elly



SUATU SAAT, ia mengajak seseorang bicara, untuk ikut memperhatikan masalah Palestina, yang rakyatnya dibantai dan dibuat semena-mena oleh Israel.

Dan orang yang diajak bicara itu, merasa tidak senang dengan ini. Seperti terganggu.

Malah berkata sinis dengan wajah gusar:

“Aneh ya kamu ini. Orang sudah stress dan pusing memikirkan keadaan diri sendiri dan keluarga, akibat segala kenaikan harga, dengan morat-marit ekonomi yang tak keruan ini, dan macam-macam musibah, eeh kamu malah menyuruh memikirkan dan memperhatikan masalah Palestina, yang bukan negara kita, dan jauh lagi!”

“Apa kamu memang tidak mempunyai masalah? tidak mempunyai perasaan dan pikiran?,” akhirnya orang yang diajak bicara itu balik bertanya. Seraya meninggalkan pembicaraan dan dirinya, dengan raut wajahnya yang masam. Tidak mau lagi berbincang dan bercakap-cakap dengannya.

SEDANG IA SENDIRi, di dalam benaknya, hanya bisa berpikir dan bersuara:

“Apakah kamu juga tidak tahu, bahwa morat-maritnya ekonomi, bobrok hancurnya akhlak anak bangsa ini, hancur luluhnya kehidupan, tumpah-ruahnya kejahatan, salah satu penyebabnya adalah karena masalah Palestina itu?”

“Negara tirai atau pembatas, yang sengaja diciptakan Zionis untuk memecah belah umat Islam, di jantung mana agama dan umat itu dilahirkan. Mempertipis iman dan keislamannya, merusak akhlak dan amalnya?”

“Menggelayutinya dengan faham-faham dan ajaran serta ideologi, memperbodohnya dengan kezaliman, di atas hawa nafsu dan giuran setan? memperkaya, memuaskan hawa nafsu angkara terhadap dunia dan materialisme, kebebasan dan keserbabolehan, di atas dendam agama dan ideologi, sejarah peradaban dan hegemoni kekuasaan, yang pernah teraih?”

“Kesombongan dan kebanggaan, iri dan dengki, merasa sebagai ras ‘pilihan tuhan’, di mana bukan hanya dunia dan segala isi ini diperuntukkan bagi mereka, tapi juga surga?

“Sehingga mereka berpendapat, kalaupun mereka tersentuh neraka, hanya sekedar beberapa hari saja?”
“Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.”
Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS 2: 80-81)

SEMENTARA ITU, ‘Dunia Dalam Berita’ memperlihatkan hal-hal yang memilukan. Membuat dada ibu itu lebih kesal dan sedih lagi.

SIAPA SIH YANG TEGA, melihat anak-anak, orang tua, perempuan, pemuda-pemudi, dengan wajah pucat pasi kemudian menjadi merah, histeris menangis, berteriak menahan kesedihan kemarahan, di hadapan mayat keluarga, dengan tubuh-tubuh mereka yang berlumuran darah, di atas dentuman peluru dan serangan bom Israel?

“Manusia yang tak memiliki hati nurani sajalah, yang mungkin cuek dan bermasabodoh!” Gerutunya geram.

INFORMASI yang disampaikan televisi, mempertontonkan kematian tiga orang pemuda Palestina. Mereka yang syahid diterjang peluru Israel.

Sementara dalam berita atau informasi tersebut, tidak pernah dikatakan seperti itu.

Paling-paling hanya dinyatakan; ’mati atau tewas’, dan bukan syahid!

Sedang alasan pembunuhan dan pembantaian, biasanya dikatakan sebagai; tindak balas Israel di dalam mempertahankan diri, atas serangan para teroris militan Palestina. Terutama Hamas dan Jihad Islam.

SUATU ARGUMENTASI yang menutupi aksi brutal Israel, di atas penindasan dan penjajahan yang mereka lakukan terhadap rakyat dan bangsa Palestina. Di wilayah dan tanah air mereka yang sah menurut sejarah!


SEKELUMIT SEJARAH

Bicara tentang sejarah, konon Yahudi dan Zionis mengklaim; bahwa Palestina adalah milik mereka. Atas status sebagai penduduk asli dari ‘tanah yang dijanjikan Tuhan’; anak cucu Ibrahim as, melalui Ishaq, Ya’kub, Daud, Sulaiman dan Musa a.s.

Padahal menurut Prof. Henry Cattan, seorang ahli sejarah dan hukum internasional kelahiran Jerusalem, berdasarkan penyelidikannya secara ilmiah dan objektif di dalam bukunya, “Plestine, The Arabs and Israel; The Search for Justice”, 1969, dinyatakan, bahwa orang-orang Israel itu bukan penduduk asli Palestina.

Orang-orang Israel, pada abad ke 12 sebelum Masehi, datang ke Palestina dari Mesir.

Setelah mereka ditaklukkan oleh tentara Romawi, mereka mengembara ke mana-mana. Terutama ke Eropa Timur, Tengah, Barat; sampai abad 18 dan 19, akhirnya menjadi orang Barat sama sekali!

Dan memang, dalam abad-abad itu, orang Yahudi mengalami pengejaran oleh orang-orang Barat asli.

Zaman ‘Diaspora’, atau zaman “perantauan akibat pengejaran” rakyat Yahudi di Eropa, sangat memilukan.

Oleh karenanya, ‘dapat dipahami’, bahwa gerakan orang-orang Yahudi dalam perantauan dan pengejaran untuk memperoleh sebuah perumahan bangsa Yahudi tersendiri, mendapat simpati dan dukungan Inggris!

WAKTU INGGRIS merencanakan untuk memberikan wilayah perumahan Yahudi di Kenya, jajahan Inggris di Afrika, di sana terdapat tanah dataran tinggi yang subur. Iklim yang baik sekali bagi orang Yahudi dari Eropa.

Tetapi, sewaktu Perang Dunia Pertama, melihat betapa vitalnya wilayah Palestina bagi negara-negara Barat, khususnya Inggris, yang melihat taktik dan strategi Jerman menyerbu ke Timur Tengah melalui Turki, demi membangkitkan sentimen anti Inggris di kalangan Dunia Arab, terjadilah perubahan niat Inggris tersebut.

Wilayah Palestina yang mandatnya pada waktu itu dipegang oleh Inggris, merupakan suatu “soft under belly”; suatu kawasan vital, ibarat bagian perut bawah yang lemah, yang dapat membahayakan posisi strategi Inggris di Timur Tengah.

Dan itu pulalah, yang menyebabkan perubahan politik Inggris untuk memindahkan konsepsi perumahan bangsa Yahudi dari Kenya, ke Palestina. Hal mana, memang menjadi tuntutan oleh mayoritas kaum Zionis Internasional, berdasarkan Kitab Injil kuno dan agama Yahudi.

Itu pula, latar belakang yang menyebabkan lahirnya Deklarasi Balfour tahun 1917.
(Dr Roeslan Abdoelgani pada artikel ‘Solidaritas Indonesia terhadap Palestina: Suatu Tinjauan Historis, yang disampaikan pada Diskusi Pekan Persahabatan Indonesia-Palestina, yang diselenggarakan oleh BKK-KUA Universitas Islam Indonesia, di Yogyakarta, 13-18 Januari 1992. Di dalam buku: “Palestina, Solidaritas Islam Dan Tata politik Dunia Baru, editor: M. Riza Sihbudi & Achmad Hadi, Pustaka Hidayah, 1992, hal 112-113)

PENGKLAIMAN Yahudi Zionis terhadap Palestina sebagai pemilik sah tanah tersebut, dan bagaimana Israel, Amerika Serikat, Eropa, banyak melakukan kezaliman dan ketidakadilan, menindas dan memperkosa hak-hak asasi bangsa dan rakyat Palestina, menjadikan perempuan itu teringat pula pada pernyataan Presiden Iran, yaitu Mahmoud Ahmadinejad; Yang menyerukan agar Israel ‘dihapuskan dari peta dunia’.

Yang lalu dengan pernyataannya itu, menjadikan elite pemerintahan Amerika Serikat dan sekutu Zionis, menjadi sangat berang!

“PADAHAL WAJAR,” pikir ibu itu lagi sambil merenung, “kalau sampai Presiden Iran tersebut menjadi geram dan mengeluarkan pernyataan seperti itu.

Karena bukankah, kebrutalan dan kezaliman Zionis Israel, telah membuat rakyat dan bangsa Palestina menderita?

"Nyata, Israel dengan Zionismenya itu, memang ingin menghilangkan identitas Palestina sebagai sebuah bangsa.” Hati si ibu kembali bergemuruh dengan rintihan.

Mengingat pembantaian, pembunuhan, pengusiran, pemukiman warga Yahudi secara paksa di wilayah Palestina.

Suatu aksi ‘ethnocide’, di atas pembalasan genocide yang dilakukan Jerman dengan tokoh faksisnya Hitler, kepada bangsa Palestina, yang notabene sama sekali tak ada sangkut-pautnya dalam hal itu!

PERBUATAN ANEH, tak masuk di akal sehat, karena pembalasan dan kezaliman yang dilakukan bangsa lain terhadap mereka, malah ditimpakan, dan dijadikan sasaran pembalasan kepada bangsa Palestina, yang tidak melakukan itu, dan tidak bersalah sama sekali!

TRAGI DAN IRONINYA, rakyat dan bangsa-bangsa di dunia, hanya menjadi ‘penonton’.

OKI dan Liga Arab, sebagai ‘macan ompong’, tak bisa berbuat sesuatu yang berarti, di atas kezaliman dan ketidakadilan ini!

KEKESALAN DAN KEGERAMAN perempuan itu, semakin melanda. Wajahnya merah, sinar matanya garang!

SELAMA MEMEGANG kekuasaan di Palestina, Inggris telah mengizinkan orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia, terutama Eropa, pindah secara besar-besaran ke Palestina.

Pada tahun 1919 saja misalnya, orang Yahudi di Palestina hanya berjumlah kurang lebih 58.000 orang. Tetapi pada tahun 1936, orang Yahudi telah berjumlah 348.000 orang.

Apalagi ditambah dengan pembelian tanah yang dilakukan mereka pada orang Arab.

Padahal, selama pemerintahan Ottoman Empire, Khilafah Utsmaniyah, orang Yahudi tidak dibolehkan membeli tanah di Palestina. (Lukman Harun, “Partisipasi Dan Solidaritas Rakyat Indonesia Di dalam Membantu Perjuangan Palestina: Pendekatan Sejarah” Di dalam buku: “Palestina, Solidaritas Islam Dan Tata politik Dunia Baru, editor: M. Riza Sihbudi & Achmad Hadi, Pustaka Hidayah, 1992, hal 118)

“14 Mei 1948, Yahudi memproklamirkan kemerdekaan. Menyatakan berdirinya negara Israel.

Sedang sebelumnya, resolusi PBB No.181 tahun 1947 menyatakan; bahwa wilayah Palestina dibagi menjadi dua bagian; satu negara Arab Palestina, satu lagi negara Yahudi.

TAPI ANEH, hingga saat ini, ‘Negara Palestina Merdeka’, tidak juga terealisasi. Penjajahan dan penindasan Israel, semakin menjadi-jadi. Apakah dalam bentuk ‘keinginan yang harus diperturutkan, atau kesombongan yang menghinakan’.

Meskipun PBB telah mengeluarkan begitu banyak resolusi. Baik resolusi 242 tahun 1967 dan 338 tahun 1973. Yang meminta agar Israel mundur dari wilayah yang diduduki setelah perang 1967 dan 1973.

SEMENTARA ITU, pemukiman dan kezaliman terhadap wilayah dan rakyat Palestina, semakin bertambah-tambah.

Balita atau anak-anak kecil, orang tua atau wanita, apalagi lelaki, remaja, pemuda serta orang dewasa, mereka bantai dan bunuh tanpa pandang bulu.

Disiksa dan dipenjarakan. Di tempatkan pada kamp-kamp pengungsi yang kumuh, tanpa mengenal rasa kemanusiaan.

ANEHNYA, tidak sampai sepekan setelah pernyataan George Bush di Annapolis, Maryland, Amerika Serikat, November 2007, yang menjanjikan Palestina Merdeka, berdasarkan Perikatan Perjanjian Perdamaian Oslo, dengan ‘Peta Jalan Damai’ nya, Israel sudah membangun ratusan rumah pemukiman Yahudi di Jerusalem!

WAJAH IBU itu semakin merona merah atas ingatan ini. Hatinya tertimbun geram dan jengkel pula, atas kelakuan Amerika Serikat dan Israel itu.

“Tak pelak, kalau George Orwell, atau Noam Chomsky, sebagai pakar linguistik, melukiskan bahwa telah terjadi manipulasi kata dengan pengalihan makna.

‘Perjanjian Perdamaian’, bisa saja berubah menjadi, ’peperangan atau nyerah total,’ di atas kemauan dan keinginan,” pikirnya. (Kenapa Palestina; Renungan Seorang Ibu”, Fatma Elly, Establitz, 2008)

Begitulah ‘Sedikit Cuplikan’ yang bisa kutampilkan saat ini. Mengingat serangan Israel atas kapal kemanuisaan, yang ingin membantu rakyat Palestina Khususnya di Gaza, yang telah mengalami pemboikotan selama empat tahun.

Suatu duka cerita bangsa dan rakyat Palestina yang dijajah di atas tanah air mereka sendiri.

Yang telah diprmainkan mereka yang berkuasa dan sedang memegang hegemoni kekuasaan, di atas, dan di tengah politik kepentingan diri, Negara dan bangsa lain, dari mereka yang tidak peduli…

SUATU IRONI DAN TRAGEDI, yang bisa saja membuat mata mereka yang memiliki hati dan rasa, menitikkan titik-titik airnya…

Atau mereka yang acuh dan beku hatinya..tak mau melayangkan sejenakpun mata dan pandangnya ke sana…apalagi membantu atau membela…


Wallahu a’lam

KITAB SUCI

Oleh: Fatma Elly

YA APALAGI kalau bukan ini?

Diambilnya Al Qur’an itu.

Alhamdulillah, Al-Qur’an memang obat mujarrab untuk segala kerisauan. Penawar hati di dada. Penyembuh peyakit. Petunjuk dan rahmat. Menjadikan diri tenang dan tentram. (QS 10:57, 13:28.)

Lembaran halaman dibukanya dengan hati-hati.
Terhenti di surah 17, ayat 1. Sebelum membacanya, terlebih dahulu dipohonnya perlindungan Allah terhadap godaan setan yang terkutuk.

“Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS 16:98)

Dibacanya Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Penyayang.

SETELAH ITU, QS 17:1, mulai diperhatikan:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Ayat itu diamati.

“Ya Allah ya Rabb! Tidak sia-sia Engkau memperjalankan hamba-Mu dari Masjidil Haram di Mekkah, ke Masjidil Aqsha di Baitul Magdis. Jerusalem. Palestina. Hingga ke Sidratul Muntaha, di langit yang ketujuh.”


Seketika pikirnya melayang. Alisnya berkernyit. Bibirnya tergerak. Pikir dan ingatannya tertuju pada QS 55:33:

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.

“Untuk bisa menembus atau melintasi penjuru langit dan bumi, diperlukan kekuatan. Bukan berjalan sendiri tanpa ‘aspek sesuatu’ berada di baliknya,” pikirnya mulai mengelana.

“Dan kekuatan Allah, alangkah tidak terbatasnya!” serunya. “Sedang kekuatan manusia, hanya diberikan sebatas izin-Nya.”

Kepalanya pun manggut-manggut.

“Di era globalisasi ini, kekuatan itu adalah ilmu dan teknologi. Dan betapa sekarang, Barat memiliki ilmu dan teknologi yang tinggi.” Lamunannya menerawang.
Mulutnya seakan bergumam:

“Dengan ilmu itu, kini, orang-orang Barat dapat menguasai dunia. Padahal ditilik dari sejarah, mereka mengalami pencerahan, awalnya dari tangan kaum muslimin. Di Spanyol, Sekolah Tinggi Toledo, sekitar abad 10, mereka menyerap dan belajar ilmu pengetahuan itu. Hingga mengantarkannya pada renaisans,” pikirnya melayang.

“Dan ilmu-ilmu yang bersifat pragmatis praktis pun, mereka peroleh dari budaya dan peradaban Islam. Juga filsafat Yunani, mereka dapat melalui tangan-tangan orang Islam.”

Matanya merenung-renung pula. Wajah dan mulutnya nyinyir dan getir.

“Sejak abad 15-16 M, mereka bangkit. Pasca renaisans, lewat revolusi industri di abad 18, mereka berkembang dan menguasai ilmu pengetahuan. Hingga kini, menjadi satu kekuatan raksasa yang mendominasi dunia!”


RASA GETIR itu, semakin mengurat-ngarit hatinya.

Dan ketika si ibu itu, masih di dalam kemurat-marutannya, baiklah, timpali dan isi saja, seru sang penyusun buku:

Kemunduran yang dialami kaum muslimin, disebabkan berbagai hal; intern maupun ekstern. Salah satunya adalah karena erosi iman. Pengabaian terhadap Kitab Suci Al Qur’an.

Haus kekuasaan, ketergiuran pada materi, cinta pada dunia, menuhankan hawa nafsu, mengikuti ajakan setan, terperangkap dalam apa yang direncanakan dan menjadi strategi musuh, adalah kelanjutan seterusnya penyebab kehancuran dan keterpurukan itu, di samping hal yang lain-lain lagi tentunya.

TETAPI YA AMPUN, lihatlah si ibu itu, rupanya ia jadi terperangah. Nafasnya serta merta tertarik dan terhembus. Berat dan panjang. Kepalanya tergeleng ke kanan dan ke kiri. Seolah tak mengerti, merasa sedih, atas perilaku dan keadaan yang membawa malapetaka itu.
Pikirannya kembali ke surah 17: 1.

“Di era Nabi, ilmu dan teknologi tidak seperti sekarang ini. Alat transportasi semacam sekarang, belum ada. Apalagi untuk melakukan perjalanan sebagaimana Rasul SAW.. ari Masjidil Haram di Mekkah, ke Masjidil Aqsha di Palestina. Bahkan angkasa luar, langit tujuh, Sidratul Muntaha, dalam waktu singkat. Semalaman. Beberapa jam saja..”

Ia seakan menerawang lagi.

“Hanya orang-orang beriman dan berkeyakinan penuh saja, yang mempercayai. Tanpa perlu argumentasi dan logika pikir ruwet!”

Tiba-tiba ia seperti mendengar suara itu mendenging di telinganya.

Tapi kemudian, ia ingat yang lain. Semacam penyanggahan.

“Orang sekarang senang berlogika,” gumamnya.

Dan mulai ikut memikirkan:

“Untuk perjalanan seperti itu, bukankah memerlukan alat transportasi yang canggih?”

Kepalanya tergeleng pula. Ke kanan dan ke kiri lagi. Tapi gerakan ini lebih banyak terisi kekaguman dan keterpesonaan akan ke Besaran, ke Maha Agungan, dan ke Maha Kuasaan Allah SWT.

Mulutnya pun bergumam: “Masya Allah!”

Disambung kemudian, dan diekspresikan lewat kalimat-kalimat yang disukai Tuhan:

“Subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha illallah, Allahu-Akbar!”

(H.R Ahmad: “Kalimat-kalimat yang paling disukai oleh Allah adalah empat: Subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu-Akbar. Dan tidak mengapa dengan yang mana engkau mulai.”

DI TENGAH kekaguman dan keterpesonaan itu, pikirannya melayang pula ke sebagian orang yang menganggap bahwa perjalanan Rasul SAW. itu, sebagai sesuatu yang ‘irrasional’. Yang kadang-kadang dianggap tidak masuk akal!

“Apakah ada bukti atau kesaksian yang jelas tentang hal ini dalam Al Qur’an dan Hadits yang sah, serta pendapat para ulama Islam yang besar-besar?” kadang-kadang mereka bertanya.

“Ataukah hanya dikemukakan atas dasar kitab-kitab dan Hadits yang tidak sah, dan tidak konsisten menurut bukti penulisan atau logika?” Orang sering bertanya pula.

“Dan kalau perjalanan itu dibenarkan dan dikuatkan oleh kesaksian yang tegas, maka apakah Muhammad SAW. telah melakukan perjalanan dalam bentuk jasadnya, ataukah hal itu hanya terjadi di dalam mimpi? rohani semata-mata?” Kadang orang bingung dan mempertanyakan.

“Kalau terjadi secara jasmani, alat atau cara apakah, yang dipakai? Bukankah ruang angkasa itu hampa udara? Banyak getaran listrik, berbagai macam sinar, meteor, dan lain-lain lagi yang membahayakan?”

“Terlebih lagi, bagaimana mungkin, dalam semalam bisa melakukan perjalanan seperti itu? bahkan sampai ke langit tujuh, Sidratul Muntaha?”

“Mustahil!” kata yang meragukan dan tidak percaya.

“Barangkali hanya mimpi!” cetus mereka.

BUKU YANG DIBACA

“Tapi, apa pula kata buku yang dibaca?” Ia mulai mengingat buku-buku tersebut.
“Beliau mengendarai ‘Buraq’, yang setiap langkahnya sejauh mata memandang, seolah-olah lari dengan kecepatan cahaya.”

Informasi yang diketahui dan diserap, seolah terkirim dan mengantarkannya ke telinga. (Fiqhus Sirah, Muhammad Al-Ghazaliy, PT. Alma’arif, hal 229).

"Buraq’ yang berasal dari akar kata ’barq’, berarti ‘kilat’. Semacam kekuatan arus listrik secara khusus diciptakan untuk keperluan perjalanan beliau itu,“ tandas Muhammad Al-Ghazaliy. Hadir dalam alun bayangnya pula itu.

“Akan tetapi, dalam keadaan biasa, tubuh manusia tidak sanggup menempuh perjalanan di cakrawala secepat kilat menyambar. Untuk itu diperlukan persiapan khusus, demi melindungi anggota tubuh dalam perjalanan sejauh dan secepat itu.”

“Saya kira, berita riwayat mengenai ‘pembelahan dada’ dan ‘pencucian hati’, bukan lain adalah merupakan perlambang yang menunjukkan persiapan yang telah ditetapkan,” lanjut Muhammad Al-Ghazaliy lagi dalam bukunya itu.

“Sejak dahulu, para ulama berbeda pendapat; apakah perjalanan malam itu dilakukan dengan roh saja, ataukah dengan roh dan jasad sekaligus?”

“Kebanyakan para ulama berpegang pada yang kedua,“ tulis Muhammad al Ghazaliy lagi (ibid hal 228).

Dan beliau berpendapat:

“Isra’ dan Mi’raj adalah suatu peristiwa yang dialami oleh Rasul Allah sendiri, dalam ruang-lingkup yang dapat dijangkau oleh roh yang telah mencapai daya pancar (Isyraq) tertinggi. Kepadatan jasad sebagai materi telah menjadi sedemikian ringan, sehingga dapat terlepas dari ketentuan hukum alam yang lazim berlaku bagi manusia biasa.”

INGATANNYA terus menerawang. Dan itu tertuju pada Sayyid Hussein Nasr; (Muhammad Kekasih Allah, Sayyid Husein Nasr, Mizan, 1993, hal 29), yang telah berkomentar dan menandaskan mengenai hal tersebut:

“Suatu peristiwa ajaib, terjadi pada tahun-tahun terakhir Nabi tinggal di Mekkah, yang meninggalkan bekas mendalam bagi seluruh kehidupan agama Islam, meski sulit dipahami oleh mereka yang dunianya telah di batasi hanya sampai dimensi hakikat fisik saja.”

Sedang DR Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy (“Sirah Nabawiyah”, Analisis Ilmiah Manhajiah terhadap Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw, DR. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy, Robbani Press, 1977) mengungkapkan:

“Bahwa jumhur ulama, baik salaf ataupun khalaf, telah sepakat bahwa Isra’ dan Mi’raj dilakukan dengan jasad dan ruh Nabi saw.”

Begitu pula Ibnu Hajar di dalam Syarah-nya terhadap Bukhari. Berkata:

“Sesungguhnya Isra’ dan Mi’raj terjadi pada satu malam, dalam keadaan sadar, dengan jasad dan ruh. Pendapat inilah yang diikuti oleh jumhur ulama, ahli hadits, fiqh dan ilmu kalam.”

Beliau menambahkan: “Imam Nawawi berkata dalam syarhu Muslim; “Pendapat yang benar menurut kebanyakan kaum Muslim, ulama salaf, semua fuqaha, ahli hadits dan ahli ilmu tauhid, adalah, bahwa Nabi SAW. di Isra’kan dengan jasad dan ruhnya”.

Kembali kata-kata dan kalimat pada buku tersebut teringat di dalam visualisasi renungan si ibu:

“Di antara dalil yang secara tegas menunjukkan bahwa Isra’ dan Mi’raj dilakukan dengan jasad dan ruh, ialah sikap kaum Quraisy yang menentang keras kebenaran peristiwa ini.” Pikirnya.

“Seandainya peristiwa itu hanya melalui mimpi, kemudian Rasulullah SAW. menyatakannya demikian kepada mereka, niscaya tidak akan mengundang keheranan dan pengingkaran sedemikian rupa.”

“Sebab, penglihatan dalam mimpi, tidak ada batasnya. Bahkan mimpi seperti itu, pada waktu itu, bisa saja dialami oleh orang Muslim dan kafir. Seandainya peristiwa ini hanya dilakukan dengan ruh saja, niscaya mereka tidak akan bertanya tentang gambaran Baitul Maqdis, untuk memastikan dan menentangnya.”

“Mengenai bagaimana mu’jizat ini berlangsung, dan bagaimana akal dapat menggambarkannya, maka sesungguhnya mu’jizat ini tidak jauh berbeda dari mu’jizat alam semesta dan kehidupan ini!”

“Setiap fenomena-fenomena alam semesta, dengan mudah dapat digambarkan dan diterima akal manusia, mengapa mu’jizat ini tidak dapat diterima pula dengan mudah?”

Dan beliau melanjutkan:

“Mu’jizat ialah sebuah kata, yang jika direnungkan, tidak memiliki definisi yang berdiri sendiri. Ia hanya suatu makna yang nisbi.”

“Menurut istilah yang sudah berkembang, mu’jizat ialah setiap perkara yang luar biasa. Sedangkan setiap kebiasaan pasti akan berkembang mengikuti perkembangan zaman, dan berlainan sesuai dengan perbedaan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.”

“Galaksi adalah mu’jizat. Planet adalah mu’jizat. Hukum gaya tarik adalah mu’jizat. Peredaran darah adalah mu’jizat. Dan manusia itu sendiri adalah mu’jizat.”

“Seandainya manusia mau berpikir lebih jauh sedikit, niscaya akan tampak baginya bahwa Allah yang menciptakan mu’jizat seluruh alam semesta ini, tidak pernah kesulitan untuk menambahkan mu’jizat lain. Atau mengganti sebagian sistem yang telah berjalan di alam semesta ini.”

Lanjut beliau pula dalam buku tersebut:

“Seorang Orientalis, Willian Johns, pernah sampai kepada pemikiran seperti ini, ketika mengatakan;

“Kekuatan yang telah menciptakan alam semesta ini, tidak pernah kesulitan untuk membuang atau menambahkan sesuatu kepadanya”.

”Adalah mudah untuk dikatakan, bahwa masalah ini tidak dapat digambarkan oleh akal. Tetapi yang harus dikatakan, bahwa masalah ini tidak tergambarkan! Bukan tidak dapat digambarkan sampai ketingkat adanya alam.”

SEMENTARA ITU, ibu itu melanjutkan renungannya lagi:

“Peristiwa Isra’ Mi’raj ini, juga merupakan salah satu mu’jizat Nabi SAW.. Bahkan sebagian besar kaum Muslim telah sepakat, bahwa Isra’ Mi’raj salah satu mu’jizat Nabi SAW. yang terbesar!”

”………..Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS 4: 169).

“Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu-Akbar!” serunya pula di dalam kekaguman dan keterpesonaan alun bayang dan ingat itu. Penerawangan di atas buku-buku bacaan dan Al Qur’an Suci.

“Maha Suci Allah. Ia Kuasa berbuat apa saja, tanpa siapa pun dapat menghalangi!” ucapnya kemudian dengan mata berbinar. Bersinar dan berseri.

“Apalagi sekadar memperjalankan hamba-Nya dari suatu tempat ke tempat yang lain. Bahkan, ke ruang angkasa, langit tujuh, Sidratul Muntaha, tiada kesusahan bagi-Nya!” teriaknya lantang diiming-imingi dengan pujian kagum dan keyakinan:

“……..Maha Suci Allah. Dia-lah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi…….” (QS 39: 4, 35:1).

Diingatnya pula ayat untuk itu:

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”(QS 6: 103).

Dan tidak pula dapat dirasa dengan alat indera. Dia tidak dapat diserupakan dengan sesuatu makhluk atau dibandingkan dengan benda.

“……Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 42: 11).

“IYA!” ibu itu seperti menegaskan. “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia! Tidak ada kekuatan apapun yang sebanding dengan Dia! Tidak ada teknologi militer apapun yang dapat mengalahkan-Nya!”

Mata ibu itu berpendar sinar..berbinar.

“Dia Maha Melihat. Dia Maha Mengetahui. Dia Maha Mendengar!” dan ia teringat pada anak-anak, para lelaki dan perempuan tua, yang menderita dalam kepungan baikot di Gaza.

Bahkan uluran tangan kemanusiaan yang datang untuk menolongpun, harus mendapat gempuran dan serangan. Alangkah biadabnya manusia bila rasa kemanusiaannya telah hilang dan sirna di telan hawa nafsu seraakah dan rasa pongah!

Sementara banyak dari kalangan kaum musliminnya sendiri yang masih acuh dan tak peduli dengan kondisi ini.

Bahkan ikut-ikut pula memboikot dan menyerang. Sedang sebuah terowongan dimana ia bisa memperoleh sesuap nasi dan rezeki, dengan tega dihancurkan.

Bahkan, tembok baja itu dibuat dengan ketamakan kesombongan di atas kebodohan yang tak tersadari.

Atau memang sengaja dan disadari. Karena politik mementingkan diri, bangsa dan Negara, menjadikan mereka lebih kuat menyangga di balik segala macam argumentasi!

Perempuan tua itu miris menangis di atas kepedihan hatinya.

Dan ia ingat bagaimana baginda Rasul-nya SAW. mengaduh dan berkata:

Berkatalah Rasul; “Ya Tuhanku, sesunguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS 25:30).

Dan ia pun berpikir: “Memang, Kitab Suci yang membawa cahaya terang benderang pada kehidupan dan kejayaan kaum muslimin, sekarang lebih banyak diletakkan di atas lemari pajangan. Isi dan kandungannya, tidak lagi diperhatikan.”

Meringis sedih hati si ibu. Menitik air dari bola matanya, membasahi pipi. Di antara raut kulit kering dilanda usia. Dimakan pikir dan renung yang selalu menagih dan menerpa.

“Duhai Rabbku..bukankah Al Qur’an itu bacaan mulia? Tidak ada padanya kebatilan dari depan maupun belakangnya?” rintihnya.

Diingatnya ayat tersebut:

“Sesungguhnya AlQur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia” (QS 56: 77).

“Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijakasana lagi Maha Terpuji”. (QS 41: 42).


“Al-Qur’an mesti di diperhatikan. Dipahami, diambil pelajaran, dan bukan dicuekkan begitu saja, tanpa manfaat yang diperoleh.” Benaknya bergumam.

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS 38:29).

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an?.......(QS 4:82).

“Sungguh Kami (Allah) telah membuat mudah pada Al Qur’an itu untuk diingat dan difahamkan. Tetapi adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” ( QS 54:17).

“Ya Allah,” jeritnya serentak, “sekarang banyak orang yang tidak memperhatikan Al Qur’an! Acuh dan tak mau mengambil pelajaran. Tertarik, bangga dan senang pada ideologi asing daripada ajaran agamanya sendiri?!”

Dadanya bergemuruh. Mengenang dan mengingat perilaku itu. Lari dan kabur dari ajaran agama, masuk ke perangkap yang dibuat orang lain.

Termasuk para pemimpin, pejabat negeri, rakyat kebanyakan. Individual sosial, dalam skala mayoritas masyarakat muslim dunia.

“Mereka jadi terhina ya Allah!” cetusnya pula mengaduh di dalam hati.

“Dijajah, ditindas, dibuat sengsara di dalam kehidupan. Miskin. Bodoh. Terbelakang. Menjadi bulan-bulanan permainan musuh yang menertawakan, karena meninggalkan Al Qur’an.”

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah Kitab yang mulia. (QS 41: 41)

PADAHAL kemuliaan mereka hanyalah bilamana mereka benar-benar konsekuen menerapkan ajaran agama dan tidak mengingkari dan masabodohkan Al Qur’an.

UMAR BIN ALKHATTHAB r.a. berkata: Bersabda Nabi saw..: “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan kitab Qur’an dan akan merendahkan lain kaum dengannya juga.” (H.R. Muslim).

DAN IA JADI INGAT kehidupan di masa Rasul SAW. dan Khulafaur-Rasyidin.

Di mana Allah SWT. telah memuji, dan mengungkapkannya di dalam QS 3:110, dan 2:143:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah………, “ (QS 3: 110).

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…”. (QS 2: 143).

SEDANG SEJARAH telah mencatat dan menuliskan di dalam lembaran indah periode kehidupan mereka, dalam tinta emasnya.

Saat itu, agama bukan dijadikan embel-embel identitas di atas kartu penduduk seperti sekarang, tapi benar-benar diwujudkan dalam praktek nyata kehidupan sehari-hari.

Sadar. Tahu. Yakin. Bahwa Islam adalah agama Allah yang sempurna dan menyeluruh. Nikmat yang dicukupkan. Agama yang diridhai. Lurus sesuai fitrah.

Dan tidak mengambil yang lain sebagai way of life, sehingga sepak terjang kehidupannya membuat mereka menjadi tercerai berai! (QS 3: 19, 5: 3, 30:30, 6: 153).

KEYAKINAN SERTA PRAKTEK agama inilah, yang menjadikan mereka mulia dan tidak terhina. Apakah ia sebagai individu, dengan status pemimpin, ataukah ia sebagai mahluk sosial, rakyat kebanyakan, dengan status orang yang dipimpin.

Mereka saling berbuat dan bekerja menurut proporsi, di atas status diri sebagai hamba Allah, dengan tanggung-jawab yang dipikul!

DUHAI KITAB SUCI, AL QUR’AN MULIA, di manakah kau sekarang? Pada siapakah kau berada?

DAN PEREMPUAN TUA itu terus mengucurkan air matanya…melihat Gaza dan Palestina, serta potret kehidupan yang dibuat umatnya…yang bernama …kaum muslimin dunia, di atas kuantitas yang layaknya…fatamorgana!


Wallahu a'lam

HARAM MELAKUKAN RIBA

oleh ال انساني ابنواهماد (catatan) 22 Juni 2010 jam 7:59
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

. بِسْــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم.
لا إله إلاَّ الله.محمد رسو ل الله
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.
اما بعد

وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ (٥٥)
سُوۡرَةُ الذّاریَات
Dan tetap tekunlah engkau memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu mendatangkan manfaat kepada orang-orang yang beriman. (55)

Dalam kita menelusuri liku-liku kehidupan maka sudah pastilah tidak akan sunyi mendepani berbagai rencam kehidupan samada yang manis mau pun yang pahit, yang benar ataupun yang sia-sia. Hanya orang-orang yang tabah dan berpegang sungguh-sungguh dengan 'syarat iman' dan 'taqwa' pasti terpelihara dari akhlak dan tatacara hidup yang menyimpang dari petunjuk Allah. Dan dalam kita mengejar kemewahan yang berbentuk materi dan habuan dunawi, maka peliharalah batas-batas ketentuan Allah, antaranya di dalam urusan muamalah supaya tidak terjatuh ke dalam RIBA. Allah Ta'ala menghalalkan 'jual-beli' tetapi mengharamkan RIBA.

Firman Allah Ta'ala:

ٱلَّذِينَ يَأۡڪُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّ‌ۚ ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۚ فَمَن جَآءَهُ ۥ مَوۡعِظَةٌ۬ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُ ۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُ ۥۤ إِلَى ٱللَّهِ‌ۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ (٢٧٥) يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِى ٱلصَّدَقَـٰتِ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (٢٧٦)
سُوۡرَةُ البَقَرَة
Orang-orang yang makan [mengambil] riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran [tekanan] penyakit gila . Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata [berpendapat], sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti [dari mengambil riba], maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu [sebelum datang larangan]; dan urusannya [terserah] kepada Allah. Orang yang mengulangi [mengambil riba], maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (275) Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (276)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda yang bermaksud:
"Allah mengutuk RIBA, orang yang memakannya, orang yang memberi makannya kepada
orang lain, jurutulisnya, dan orang yang menjadi saksinya. Begitu juga wanita yang menyambung rambutnya, wanita yang meminta disambung rambutnya, wanita yang membuat tahi lalat palsu, wanita yang meminta dibuatkan tahi lalat, wanita yang berhias dengan mencabut rambutnya dan wanita di hias dengan mencabut rambutnya."
(HR Tabrani)

Nasehat dan Pengajaran:

Riba terbagi kepada dua jenis, yakni:
1. Nasiah : yakni riba dengan cara membayar lebih dari jumlah asal, yang ditetapkan oleh orang yang meminjamkannya. Misalnya jika ia memberi piutang sepuluh dinar maka ia mensyaratkan agar nanti dibayar sebelas dinar dalam tempuh sepurnama.

2. Fadal : yakni penukaran lebih dari satu barang yang sejenis yang ditetapkan oleh orang yang menukarkannya. Misalnya emas 10 gram harus ditukar dengan 11 gram emas yang sama kulititasnya. Riba jenis ini boleh berlaku dalam penukaran barangan makanan seperti beras, gandum dan garam; atau dalam penukaran barang emas dan perak.

Islam mengharamkan kedua-dua jenis riba itu. Maka sesiapa yang terus mengambil riba tentulah ia sentiasa mendapat kutukan dari Allah. Justeru, jiwanya tidak pernah tenang, seddng usahanya tidak mengandung keberkahan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda yang bermaksud:
"Demi Dzat yang hidupku ada dalam kekuasaan-Nya, sebagian manusia dari umatku berrmalam-malam dalam kemaksiatan, kelalaian dan permainan. Maka pada waktu pagi mereka menjadi kera dan babi karena mereka menghalalkan barang yang diharamkan, mereka mengambil penyanyi-penyanyi wanita, minum arak, makan riba dan memakai kain sutera."
(HR Abdullah bin Ahmad dalam "Zawa'id")

Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم lagi yang bermaksud:
"Satu dirham dari barang riba yang telah dimakan seseorang sedang dia tahu, lebih berat (siksanya) daripada tiga puluh enam kali berzina."
HR Ahmad dan Tabrani)

Nasehat dan Pengajaran:

Menerusi hadith di atas dapat kita ketahui bahwa memakan atau mengambil RIBA lebih besar dosanya dari berzina. Ini adalah peringatan keras agar jangan sekali-kali terlibat dengan RIBA karena akibat buruknya amatlah besar, sama ada ketika di dunia, apa lagilah di akhirat kelak.

SUJUD ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN

Oleh: DR. Aidh al-Qarni.
KEBAHAGIAAN BUKAN TIMBUNAN HARTA, BAGIKU, ORANG YANG TAQWA, ITULAH BAHAGIA. Lembaran kebahagiaan yang pertama yang tercatat dalam buku harian dan surat perjanjian pertama dalam catatan siang hari seseorang adalah sholat Fajar. Mulailah hari-harimu dengan melaksanakan shalat Fajar. Bukalah kegiatanmu dengan sholat Fajar. Saatnya Engkau berada dalam jaminan, dalam perjanjian, dalam perlindungan, pengawasan dan pengamanan-NYA. Allah akan menjagamu dari segala keburukan, menunjukanmu ke setiap kebaikan dan membawamu kepada keutamaan. Sungguh, tidak akan berkah hari-hari yang tidak diawali dengan shalat Fajar, karena Allah tidak akan menjadikan siang hari menjadi dinamis. Ini awal sebuah kesuksesan; sebagai tanda keberhasilan yang tercatat dalam buku; tanda kemenangan, kemuliaan dan keberhasilan. Maka, selamat bagi mereka yang melaksanakan shalat Fajar dan suramlah hari-hari mereka yang tidak memulai harinya dengan shalat Fajar. Pencerahan : Debat kusir dan dialog yang pandir akan menghilangkan ketulusan hati dan keindahan.

Tulisan Pertama Di Lauh Mahfutz

22 Juni 2010 jam 13:22


Nabi Muhammad s.a.w. bersabda, “Ketika Allah menciptakan qolam, kemudian lauh, Allah memerintahkan qolam untuk mendatangi lauh. Allah berfirman kepada qolam, “Wahai qolam”.

Qolam menjawab, “Aku sambut panggilan-Mu dan aku siap menerima perintah-Mu Ya Robbi”

Allah memberi perintah, “Tulislah pertama kali bismillāhirrohmānirrohimi”.

Ketika qolam menulis “ba” keluarlah darinya cahaya yang menyinari segala sesuatu di malakūt dari mulai ‘arsy sampai bumi. Bertanyalah qolam, “Ya Robbi ! Apakah “ba” ini ?”

Allah menjawab, “Ba ini adalah barīun liummati Muhammadin (pembebas untuk umat Muhammad)”

Allah memerintahkan pula qolam menulis “sīn”.

Ketika qolam menulisnya, keluarlah dari lekukan-lekukannya beberapa cahaya. Cahaya yang satu memancar ke ‘arsy,
yang satu ke kursi dan yang satu ke surga. Ketika qolam melihat ketiga cahaya ini, ia bertanya, “Ilahi, Apakah cahaya-cahaya ini ?”

Allah menjawab, “Ini adalah cahaya umat Muhammad ‘alahissolātu wassalām. Adapun cahaya yang memancar ke ‘arsy adalah cahaya al-sābiqīn, cahaya yang memancar ke kursi adalah cahaya al-muqtasidīn dan cahaya yang memancar ke surga adalah cahaya al-‘āsīn dan az-zōlimīn di antara mereka”.


Allah memerintahkan pula Qolam menulis “mīm”.

Ketika qolam menulisnya, keluarlah darinya cahaya yang lebih terang dan lebih bersinar dari cahaya “ba” dan “sīn” sehingga menyinari segala se-suatu dari ‘arsy sampai bumi. Terdiamlah qolam dalam ketakjuban seribu tahun. Setelah itu bertanyalah qolam, “Ya Robbi, Apakah cahaya ini ?”

Allah menjawab, ”Ini adalah Nur Muhammad ‘alaihissolātu wassalām. Dia adalah kekasih-Ku, pilihan-Ku dan rosul-Ku. Ini Sayyid seluruh nabi dan rosul. Dan tidak Aku ciptakan segala sesuatu, kecuali karenanya”.

Ketika Qolam mendengarnya maka berkeinginanlah untuk menyampaikan salam pada Nur Muhammad ‘alahissolātu wassalāmu, kemudian meminta idzin melakukannya. Kemudian berkatalah qolam, “Assalāmu ‘alaika (salam bagimu) wahai Rosūlallōh - wahai Habīballōh dan wahai Nūrollōh.

Allah berfirman, “Wahai qolam ! engkau telah menyampaikan salam kepada kekasih dan rosul-Ku padahal ia saat ini tidak ada, sedangkan apabila ia hadir pastilah ia akan menjawab salammu, karena itu Aku jawab padamu karenanya. Bagimu salam dari-Ku wahai qolam”.

Allah memerintahkan qolam menulis Allah Ar-Rohmān Ar-Rohīm.

Bertanyalah qolam, “Ya Robbi,Apakah nama-nama ini bagi-Mu ?”

Allah Yang Maha Tinggi menjawab, “Aku - Allah - untuk as-sābiqīn, Aku - Ar-Rohmān – untuk al-muqtasidīn dan Aku - Ar-Rohīm - untuk al-‘āsīn dan az-zōlimin”.


Dalam sebagian keterangan disebutkan bahwa As-Sābiqīn adalah orang yang kebaikannya amat banyak – jauh melebihi keburukannya. Al-Muqtasidīn adalah orang yang kebaikan dan keburukannya berbanding. Al-‘Āsīn adalah orang yang keburukannya jauh melebihi kebaikan yang dilakukan.


~ ***~ *** ~ *** ~ *** ~

Jauh sebelum Allah menciptakan Nabi Adam as, bahkan jauh sebelum Allah menciptakan Alam semesta, Allah sudah sangat mencintai Rasulullah saw, mencintai umat Rasulullah saw, Mencintai umat-Nya, Subhanallah.....Allahu Akbar.....!!!!

Allah sudah membuat rencana yang begitu Indah dan Akurat terhadap semua ini, dan tidak ada satu pun yang meleset dari rencana-Nya.......bukan hanya utk manusia dan makhluk lain, bahkan untuk seluruh alam, dan mereka semua mengakui beradaan dan kebesaran Allah Azza wa jalla.

Pertanyaan buat kita semua : Apakah manusia masih punya rasa malu ketika berbuat dzolim dihadapan Allah Maha Besar...???? Tempat kita semua kembali kepada-Nya, dengan membawa segala dosa-dosa kita....???? Astagfirullah, semoga Allah mengampuni dosa kita, amin.

~ *** ~

frwd from Hikayat Indah

POTRET BATANG