TA'AWANU 'ALAL BIRRI

Minggu, 04 Juli 2010

KITAB SUCI

Oleh: Fatma Elly

YA APALAGI kalau bukan ini?

Diambilnya Al Qur’an itu.

Alhamdulillah, Al-Qur’an memang obat mujarrab untuk segala kerisauan. Penawar hati di dada. Penyembuh peyakit. Petunjuk dan rahmat. Menjadikan diri tenang dan tentram. (QS 10:57, 13:28.)

Lembaran halaman dibukanya dengan hati-hati.
Terhenti di surah 17, ayat 1. Sebelum membacanya, terlebih dahulu dipohonnya perlindungan Allah terhadap godaan setan yang terkutuk.

“Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS 16:98)

Dibacanya Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Penyayang.

SETELAH ITU, QS 17:1, mulai diperhatikan:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Ayat itu diamati.

“Ya Allah ya Rabb! Tidak sia-sia Engkau memperjalankan hamba-Mu dari Masjidil Haram di Mekkah, ke Masjidil Aqsha di Baitul Magdis. Jerusalem. Palestina. Hingga ke Sidratul Muntaha, di langit yang ketujuh.”


Seketika pikirnya melayang. Alisnya berkernyit. Bibirnya tergerak. Pikir dan ingatannya tertuju pada QS 55:33:

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.

“Untuk bisa menembus atau melintasi penjuru langit dan bumi, diperlukan kekuatan. Bukan berjalan sendiri tanpa ‘aspek sesuatu’ berada di baliknya,” pikirnya mulai mengelana.

“Dan kekuatan Allah, alangkah tidak terbatasnya!” serunya. “Sedang kekuatan manusia, hanya diberikan sebatas izin-Nya.”

Kepalanya pun manggut-manggut.

“Di era globalisasi ini, kekuatan itu adalah ilmu dan teknologi. Dan betapa sekarang, Barat memiliki ilmu dan teknologi yang tinggi.” Lamunannya menerawang.
Mulutnya seakan bergumam:

“Dengan ilmu itu, kini, orang-orang Barat dapat menguasai dunia. Padahal ditilik dari sejarah, mereka mengalami pencerahan, awalnya dari tangan kaum muslimin. Di Spanyol, Sekolah Tinggi Toledo, sekitar abad 10, mereka menyerap dan belajar ilmu pengetahuan itu. Hingga mengantarkannya pada renaisans,” pikirnya melayang.

“Dan ilmu-ilmu yang bersifat pragmatis praktis pun, mereka peroleh dari budaya dan peradaban Islam. Juga filsafat Yunani, mereka dapat melalui tangan-tangan orang Islam.”

Matanya merenung-renung pula. Wajah dan mulutnya nyinyir dan getir.

“Sejak abad 15-16 M, mereka bangkit. Pasca renaisans, lewat revolusi industri di abad 18, mereka berkembang dan menguasai ilmu pengetahuan. Hingga kini, menjadi satu kekuatan raksasa yang mendominasi dunia!”


RASA GETIR itu, semakin mengurat-ngarit hatinya.

Dan ketika si ibu itu, masih di dalam kemurat-marutannya, baiklah, timpali dan isi saja, seru sang penyusun buku:

Kemunduran yang dialami kaum muslimin, disebabkan berbagai hal; intern maupun ekstern. Salah satunya adalah karena erosi iman. Pengabaian terhadap Kitab Suci Al Qur’an.

Haus kekuasaan, ketergiuran pada materi, cinta pada dunia, menuhankan hawa nafsu, mengikuti ajakan setan, terperangkap dalam apa yang direncanakan dan menjadi strategi musuh, adalah kelanjutan seterusnya penyebab kehancuran dan keterpurukan itu, di samping hal yang lain-lain lagi tentunya.

TETAPI YA AMPUN, lihatlah si ibu itu, rupanya ia jadi terperangah. Nafasnya serta merta tertarik dan terhembus. Berat dan panjang. Kepalanya tergeleng ke kanan dan ke kiri. Seolah tak mengerti, merasa sedih, atas perilaku dan keadaan yang membawa malapetaka itu.
Pikirannya kembali ke surah 17: 1.

“Di era Nabi, ilmu dan teknologi tidak seperti sekarang ini. Alat transportasi semacam sekarang, belum ada. Apalagi untuk melakukan perjalanan sebagaimana Rasul SAW.. ari Masjidil Haram di Mekkah, ke Masjidil Aqsha di Palestina. Bahkan angkasa luar, langit tujuh, Sidratul Muntaha, dalam waktu singkat. Semalaman. Beberapa jam saja..”

Ia seakan menerawang lagi.

“Hanya orang-orang beriman dan berkeyakinan penuh saja, yang mempercayai. Tanpa perlu argumentasi dan logika pikir ruwet!”

Tiba-tiba ia seperti mendengar suara itu mendenging di telinganya.

Tapi kemudian, ia ingat yang lain. Semacam penyanggahan.

“Orang sekarang senang berlogika,” gumamnya.

Dan mulai ikut memikirkan:

“Untuk perjalanan seperti itu, bukankah memerlukan alat transportasi yang canggih?”

Kepalanya tergeleng pula. Ke kanan dan ke kiri lagi. Tapi gerakan ini lebih banyak terisi kekaguman dan keterpesonaan akan ke Besaran, ke Maha Agungan, dan ke Maha Kuasaan Allah SWT.

Mulutnya pun bergumam: “Masya Allah!”

Disambung kemudian, dan diekspresikan lewat kalimat-kalimat yang disukai Tuhan:

“Subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha illallah, Allahu-Akbar!”

(H.R Ahmad: “Kalimat-kalimat yang paling disukai oleh Allah adalah empat: Subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu-Akbar. Dan tidak mengapa dengan yang mana engkau mulai.”

DI TENGAH kekaguman dan keterpesonaan itu, pikirannya melayang pula ke sebagian orang yang menganggap bahwa perjalanan Rasul SAW. itu, sebagai sesuatu yang ‘irrasional’. Yang kadang-kadang dianggap tidak masuk akal!

“Apakah ada bukti atau kesaksian yang jelas tentang hal ini dalam Al Qur’an dan Hadits yang sah, serta pendapat para ulama Islam yang besar-besar?” kadang-kadang mereka bertanya.

“Ataukah hanya dikemukakan atas dasar kitab-kitab dan Hadits yang tidak sah, dan tidak konsisten menurut bukti penulisan atau logika?” Orang sering bertanya pula.

“Dan kalau perjalanan itu dibenarkan dan dikuatkan oleh kesaksian yang tegas, maka apakah Muhammad SAW. telah melakukan perjalanan dalam bentuk jasadnya, ataukah hal itu hanya terjadi di dalam mimpi? rohani semata-mata?” Kadang orang bingung dan mempertanyakan.

“Kalau terjadi secara jasmani, alat atau cara apakah, yang dipakai? Bukankah ruang angkasa itu hampa udara? Banyak getaran listrik, berbagai macam sinar, meteor, dan lain-lain lagi yang membahayakan?”

“Terlebih lagi, bagaimana mungkin, dalam semalam bisa melakukan perjalanan seperti itu? bahkan sampai ke langit tujuh, Sidratul Muntaha?”

“Mustahil!” kata yang meragukan dan tidak percaya.

“Barangkali hanya mimpi!” cetus mereka.

BUKU YANG DIBACA

“Tapi, apa pula kata buku yang dibaca?” Ia mulai mengingat buku-buku tersebut.
“Beliau mengendarai ‘Buraq’, yang setiap langkahnya sejauh mata memandang, seolah-olah lari dengan kecepatan cahaya.”

Informasi yang diketahui dan diserap, seolah terkirim dan mengantarkannya ke telinga. (Fiqhus Sirah, Muhammad Al-Ghazaliy, PT. Alma’arif, hal 229).

"Buraq’ yang berasal dari akar kata ’barq’, berarti ‘kilat’. Semacam kekuatan arus listrik secara khusus diciptakan untuk keperluan perjalanan beliau itu,“ tandas Muhammad Al-Ghazaliy. Hadir dalam alun bayangnya pula itu.

“Akan tetapi, dalam keadaan biasa, tubuh manusia tidak sanggup menempuh perjalanan di cakrawala secepat kilat menyambar. Untuk itu diperlukan persiapan khusus, demi melindungi anggota tubuh dalam perjalanan sejauh dan secepat itu.”

“Saya kira, berita riwayat mengenai ‘pembelahan dada’ dan ‘pencucian hati’, bukan lain adalah merupakan perlambang yang menunjukkan persiapan yang telah ditetapkan,” lanjut Muhammad Al-Ghazaliy lagi dalam bukunya itu.

“Sejak dahulu, para ulama berbeda pendapat; apakah perjalanan malam itu dilakukan dengan roh saja, ataukah dengan roh dan jasad sekaligus?”

“Kebanyakan para ulama berpegang pada yang kedua,“ tulis Muhammad al Ghazaliy lagi (ibid hal 228).

Dan beliau berpendapat:

“Isra’ dan Mi’raj adalah suatu peristiwa yang dialami oleh Rasul Allah sendiri, dalam ruang-lingkup yang dapat dijangkau oleh roh yang telah mencapai daya pancar (Isyraq) tertinggi. Kepadatan jasad sebagai materi telah menjadi sedemikian ringan, sehingga dapat terlepas dari ketentuan hukum alam yang lazim berlaku bagi manusia biasa.”

INGATANNYA terus menerawang. Dan itu tertuju pada Sayyid Hussein Nasr; (Muhammad Kekasih Allah, Sayyid Husein Nasr, Mizan, 1993, hal 29), yang telah berkomentar dan menandaskan mengenai hal tersebut:

“Suatu peristiwa ajaib, terjadi pada tahun-tahun terakhir Nabi tinggal di Mekkah, yang meninggalkan bekas mendalam bagi seluruh kehidupan agama Islam, meski sulit dipahami oleh mereka yang dunianya telah di batasi hanya sampai dimensi hakikat fisik saja.”

Sedang DR Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy (“Sirah Nabawiyah”, Analisis Ilmiah Manhajiah terhadap Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw, DR. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy, Robbani Press, 1977) mengungkapkan:

“Bahwa jumhur ulama, baik salaf ataupun khalaf, telah sepakat bahwa Isra’ dan Mi’raj dilakukan dengan jasad dan ruh Nabi saw.”

Begitu pula Ibnu Hajar di dalam Syarah-nya terhadap Bukhari. Berkata:

“Sesungguhnya Isra’ dan Mi’raj terjadi pada satu malam, dalam keadaan sadar, dengan jasad dan ruh. Pendapat inilah yang diikuti oleh jumhur ulama, ahli hadits, fiqh dan ilmu kalam.”

Beliau menambahkan: “Imam Nawawi berkata dalam syarhu Muslim; “Pendapat yang benar menurut kebanyakan kaum Muslim, ulama salaf, semua fuqaha, ahli hadits dan ahli ilmu tauhid, adalah, bahwa Nabi SAW. di Isra’kan dengan jasad dan ruhnya”.

Kembali kata-kata dan kalimat pada buku tersebut teringat di dalam visualisasi renungan si ibu:

“Di antara dalil yang secara tegas menunjukkan bahwa Isra’ dan Mi’raj dilakukan dengan jasad dan ruh, ialah sikap kaum Quraisy yang menentang keras kebenaran peristiwa ini.” Pikirnya.

“Seandainya peristiwa itu hanya melalui mimpi, kemudian Rasulullah SAW. menyatakannya demikian kepada mereka, niscaya tidak akan mengundang keheranan dan pengingkaran sedemikian rupa.”

“Sebab, penglihatan dalam mimpi, tidak ada batasnya. Bahkan mimpi seperti itu, pada waktu itu, bisa saja dialami oleh orang Muslim dan kafir. Seandainya peristiwa ini hanya dilakukan dengan ruh saja, niscaya mereka tidak akan bertanya tentang gambaran Baitul Maqdis, untuk memastikan dan menentangnya.”

“Mengenai bagaimana mu’jizat ini berlangsung, dan bagaimana akal dapat menggambarkannya, maka sesungguhnya mu’jizat ini tidak jauh berbeda dari mu’jizat alam semesta dan kehidupan ini!”

“Setiap fenomena-fenomena alam semesta, dengan mudah dapat digambarkan dan diterima akal manusia, mengapa mu’jizat ini tidak dapat diterima pula dengan mudah?”

Dan beliau melanjutkan:

“Mu’jizat ialah sebuah kata, yang jika direnungkan, tidak memiliki definisi yang berdiri sendiri. Ia hanya suatu makna yang nisbi.”

“Menurut istilah yang sudah berkembang, mu’jizat ialah setiap perkara yang luar biasa. Sedangkan setiap kebiasaan pasti akan berkembang mengikuti perkembangan zaman, dan berlainan sesuai dengan perbedaan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.”

“Galaksi adalah mu’jizat. Planet adalah mu’jizat. Hukum gaya tarik adalah mu’jizat. Peredaran darah adalah mu’jizat. Dan manusia itu sendiri adalah mu’jizat.”

“Seandainya manusia mau berpikir lebih jauh sedikit, niscaya akan tampak baginya bahwa Allah yang menciptakan mu’jizat seluruh alam semesta ini, tidak pernah kesulitan untuk menambahkan mu’jizat lain. Atau mengganti sebagian sistem yang telah berjalan di alam semesta ini.”

Lanjut beliau pula dalam buku tersebut:

“Seorang Orientalis, Willian Johns, pernah sampai kepada pemikiran seperti ini, ketika mengatakan;

“Kekuatan yang telah menciptakan alam semesta ini, tidak pernah kesulitan untuk membuang atau menambahkan sesuatu kepadanya”.

”Adalah mudah untuk dikatakan, bahwa masalah ini tidak dapat digambarkan oleh akal. Tetapi yang harus dikatakan, bahwa masalah ini tidak tergambarkan! Bukan tidak dapat digambarkan sampai ketingkat adanya alam.”

SEMENTARA ITU, ibu itu melanjutkan renungannya lagi:

“Peristiwa Isra’ Mi’raj ini, juga merupakan salah satu mu’jizat Nabi SAW.. Bahkan sebagian besar kaum Muslim telah sepakat, bahwa Isra’ Mi’raj salah satu mu’jizat Nabi SAW. yang terbesar!”

”………..Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS 4: 169).

“Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu-Akbar!” serunya pula di dalam kekaguman dan keterpesonaan alun bayang dan ingat itu. Penerawangan di atas buku-buku bacaan dan Al Qur’an Suci.

“Maha Suci Allah. Ia Kuasa berbuat apa saja, tanpa siapa pun dapat menghalangi!” ucapnya kemudian dengan mata berbinar. Bersinar dan berseri.

“Apalagi sekadar memperjalankan hamba-Nya dari suatu tempat ke tempat yang lain. Bahkan, ke ruang angkasa, langit tujuh, Sidratul Muntaha, tiada kesusahan bagi-Nya!” teriaknya lantang diiming-imingi dengan pujian kagum dan keyakinan:

“……..Maha Suci Allah. Dia-lah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi…….” (QS 39: 4, 35:1).

Diingatnya pula ayat untuk itu:

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”(QS 6: 103).

Dan tidak pula dapat dirasa dengan alat indera. Dia tidak dapat diserupakan dengan sesuatu makhluk atau dibandingkan dengan benda.

“……Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 42: 11).

“IYA!” ibu itu seperti menegaskan. “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia! Tidak ada kekuatan apapun yang sebanding dengan Dia! Tidak ada teknologi militer apapun yang dapat mengalahkan-Nya!”

Mata ibu itu berpendar sinar..berbinar.

“Dia Maha Melihat. Dia Maha Mengetahui. Dia Maha Mendengar!” dan ia teringat pada anak-anak, para lelaki dan perempuan tua, yang menderita dalam kepungan baikot di Gaza.

Bahkan uluran tangan kemanusiaan yang datang untuk menolongpun, harus mendapat gempuran dan serangan. Alangkah biadabnya manusia bila rasa kemanusiaannya telah hilang dan sirna di telan hawa nafsu seraakah dan rasa pongah!

Sementara banyak dari kalangan kaum musliminnya sendiri yang masih acuh dan tak peduli dengan kondisi ini.

Bahkan ikut-ikut pula memboikot dan menyerang. Sedang sebuah terowongan dimana ia bisa memperoleh sesuap nasi dan rezeki, dengan tega dihancurkan.

Bahkan, tembok baja itu dibuat dengan ketamakan kesombongan di atas kebodohan yang tak tersadari.

Atau memang sengaja dan disadari. Karena politik mementingkan diri, bangsa dan Negara, menjadikan mereka lebih kuat menyangga di balik segala macam argumentasi!

Perempuan tua itu miris menangis di atas kepedihan hatinya.

Dan ia ingat bagaimana baginda Rasul-nya SAW. mengaduh dan berkata:

Berkatalah Rasul; “Ya Tuhanku, sesunguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS 25:30).

Dan ia pun berpikir: “Memang, Kitab Suci yang membawa cahaya terang benderang pada kehidupan dan kejayaan kaum muslimin, sekarang lebih banyak diletakkan di atas lemari pajangan. Isi dan kandungannya, tidak lagi diperhatikan.”

Meringis sedih hati si ibu. Menitik air dari bola matanya, membasahi pipi. Di antara raut kulit kering dilanda usia. Dimakan pikir dan renung yang selalu menagih dan menerpa.

“Duhai Rabbku..bukankah Al Qur’an itu bacaan mulia? Tidak ada padanya kebatilan dari depan maupun belakangnya?” rintihnya.

Diingatnya ayat tersebut:

“Sesungguhnya AlQur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia” (QS 56: 77).

“Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijakasana lagi Maha Terpuji”. (QS 41: 42).


“Al-Qur’an mesti di diperhatikan. Dipahami, diambil pelajaran, dan bukan dicuekkan begitu saja, tanpa manfaat yang diperoleh.” Benaknya bergumam.

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS 38:29).

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an?.......(QS 4:82).

“Sungguh Kami (Allah) telah membuat mudah pada Al Qur’an itu untuk diingat dan difahamkan. Tetapi adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” ( QS 54:17).

“Ya Allah,” jeritnya serentak, “sekarang banyak orang yang tidak memperhatikan Al Qur’an! Acuh dan tak mau mengambil pelajaran. Tertarik, bangga dan senang pada ideologi asing daripada ajaran agamanya sendiri?!”

Dadanya bergemuruh. Mengenang dan mengingat perilaku itu. Lari dan kabur dari ajaran agama, masuk ke perangkap yang dibuat orang lain.

Termasuk para pemimpin, pejabat negeri, rakyat kebanyakan. Individual sosial, dalam skala mayoritas masyarakat muslim dunia.

“Mereka jadi terhina ya Allah!” cetusnya pula mengaduh di dalam hati.

“Dijajah, ditindas, dibuat sengsara di dalam kehidupan. Miskin. Bodoh. Terbelakang. Menjadi bulan-bulanan permainan musuh yang menertawakan, karena meninggalkan Al Qur’an.”

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah Kitab yang mulia. (QS 41: 41)

PADAHAL kemuliaan mereka hanyalah bilamana mereka benar-benar konsekuen menerapkan ajaran agama dan tidak mengingkari dan masabodohkan Al Qur’an.

UMAR BIN ALKHATTHAB r.a. berkata: Bersabda Nabi saw..: “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan kitab Qur’an dan akan merendahkan lain kaum dengannya juga.” (H.R. Muslim).

DAN IA JADI INGAT kehidupan di masa Rasul SAW. dan Khulafaur-Rasyidin.

Di mana Allah SWT. telah memuji, dan mengungkapkannya di dalam QS 3:110, dan 2:143:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah………, “ (QS 3: 110).

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…”. (QS 2: 143).

SEDANG SEJARAH telah mencatat dan menuliskan di dalam lembaran indah periode kehidupan mereka, dalam tinta emasnya.

Saat itu, agama bukan dijadikan embel-embel identitas di atas kartu penduduk seperti sekarang, tapi benar-benar diwujudkan dalam praktek nyata kehidupan sehari-hari.

Sadar. Tahu. Yakin. Bahwa Islam adalah agama Allah yang sempurna dan menyeluruh. Nikmat yang dicukupkan. Agama yang diridhai. Lurus sesuai fitrah.

Dan tidak mengambil yang lain sebagai way of life, sehingga sepak terjang kehidupannya membuat mereka menjadi tercerai berai! (QS 3: 19, 5: 3, 30:30, 6: 153).

KEYAKINAN SERTA PRAKTEK agama inilah, yang menjadikan mereka mulia dan tidak terhina. Apakah ia sebagai individu, dengan status pemimpin, ataukah ia sebagai mahluk sosial, rakyat kebanyakan, dengan status orang yang dipimpin.

Mereka saling berbuat dan bekerja menurut proporsi, di atas status diri sebagai hamba Allah, dengan tanggung-jawab yang dipikul!

DUHAI KITAB SUCI, AL QUR’AN MULIA, di manakah kau sekarang? Pada siapakah kau berada?

DAN PEREMPUAN TUA itu terus mengucurkan air matanya…melihat Gaza dan Palestina, serta potret kehidupan yang dibuat umatnya…yang bernama …kaum muslimin dunia, di atas kuantitas yang layaknya…fatamorgana!


Wallahu a'lam

HARAM MELAKUKAN RIBA

oleh ال انساني ابنواهماد (catatan) 22 Juni 2010 jam 7:59
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

. بِسْــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم.
لا إله إلاَّ الله.محمد رسو ل الله
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.
اما بعد

وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ (٥٥)
سُوۡرَةُ الذّاریَات
Dan tetap tekunlah engkau memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu mendatangkan manfaat kepada orang-orang yang beriman. (55)

Dalam kita menelusuri liku-liku kehidupan maka sudah pastilah tidak akan sunyi mendepani berbagai rencam kehidupan samada yang manis mau pun yang pahit, yang benar ataupun yang sia-sia. Hanya orang-orang yang tabah dan berpegang sungguh-sungguh dengan 'syarat iman' dan 'taqwa' pasti terpelihara dari akhlak dan tatacara hidup yang menyimpang dari petunjuk Allah. Dan dalam kita mengejar kemewahan yang berbentuk materi dan habuan dunawi, maka peliharalah batas-batas ketentuan Allah, antaranya di dalam urusan muamalah supaya tidak terjatuh ke dalam RIBA. Allah Ta'ala menghalalkan 'jual-beli' tetapi mengharamkan RIBA.

Firman Allah Ta'ala:

ٱلَّذِينَ يَأۡڪُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّ‌ۚ ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۚ فَمَن جَآءَهُ ۥ مَوۡعِظَةٌ۬ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُ ۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُ ۥۤ إِلَى ٱللَّهِ‌ۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ (٢٧٥) يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِى ٱلصَّدَقَـٰتِ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (٢٧٦)
سُوۡرَةُ البَقَرَة
Orang-orang yang makan [mengambil] riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran [tekanan] penyakit gila . Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata [berpendapat], sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti [dari mengambil riba], maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu [sebelum datang larangan]; dan urusannya [terserah] kepada Allah. Orang yang mengulangi [mengambil riba], maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (275) Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (276)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda yang bermaksud:
"Allah mengutuk RIBA, orang yang memakannya, orang yang memberi makannya kepada
orang lain, jurutulisnya, dan orang yang menjadi saksinya. Begitu juga wanita yang menyambung rambutnya, wanita yang meminta disambung rambutnya, wanita yang membuat tahi lalat palsu, wanita yang meminta dibuatkan tahi lalat, wanita yang berhias dengan mencabut rambutnya dan wanita di hias dengan mencabut rambutnya."
(HR Tabrani)

Nasehat dan Pengajaran:

Riba terbagi kepada dua jenis, yakni:
1. Nasiah : yakni riba dengan cara membayar lebih dari jumlah asal, yang ditetapkan oleh orang yang meminjamkannya. Misalnya jika ia memberi piutang sepuluh dinar maka ia mensyaratkan agar nanti dibayar sebelas dinar dalam tempuh sepurnama.

2. Fadal : yakni penukaran lebih dari satu barang yang sejenis yang ditetapkan oleh orang yang menukarkannya. Misalnya emas 10 gram harus ditukar dengan 11 gram emas yang sama kulititasnya. Riba jenis ini boleh berlaku dalam penukaran barangan makanan seperti beras, gandum dan garam; atau dalam penukaran barang emas dan perak.

Islam mengharamkan kedua-dua jenis riba itu. Maka sesiapa yang terus mengambil riba tentulah ia sentiasa mendapat kutukan dari Allah. Justeru, jiwanya tidak pernah tenang, seddng usahanya tidak mengandung keberkahan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda yang bermaksud:
"Demi Dzat yang hidupku ada dalam kekuasaan-Nya, sebagian manusia dari umatku berrmalam-malam dalam kemaksiatan, kelalaian dan permainan. Maka pada waktu pagi mereka menjadi kera dan babi karena mereka menghalalkan barang yang diharamkan, mereka mengambil penyanyi-penyanyi wanita, minum arak, makan riba dan memakai kain sutera."
(HR Abdullah bin Ahmad dalam "Zawa'id")

Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم lagi yang bermaksud:
"Satu dirham dari barang riba yang telah dimakan seseorang sedang dia tahu, lebih berat (siksanya) daripada tiga puluh enam kali berzina."
HR Ahmad dan Tabrani)

Nasehat dan Pengajaran:

Menerusi hadith di atas dapat kita ketahui bahwa memakan atau mengambil RIBA lebih besar dosanya dari berzina. Ini adalah peringatan keras agar jangan sekali-kali terlibat dengan RIBA karena akibat buruknya amatlah besar, sama ada ketika di dunia, apa lagilah di akhirat kelak.

SUJUD ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN

Oleh: DR. Aidh al-Qarni.
KEBAHAGIAAN BUKAN TIMBUNAN HARTA, BAGIKU, ORANG YANG TAQWA, ITULAH BAHAGIA. Lembaran kebahagiaan yang pertama yang tercatat dalam buku harian dan surat perjanjian pertama dalam catatan siang hari seseorang adalah sholat Fajar. Mulailah hari-harimu dengan melaksanakan shalat Fajar. Bukalah kegiatanmu dengan sholat Fajar. Saatnya Engkau berada dalam jaminan, dalam perjanjian, dalam perlindungan, pengawasan dan pengamanan-NYA. Allah akan menjagamu dari segala keburukan, menunjukanmu ke setiap kebaikan dan membawamu kepada keutamaan. Sungguh, tidak akan berkah hari-hari yang tidak diawali dengan shalat Fajar, karena Allah tidak akan menjadikan siang hari menjadi dinamis. Ini awal sebuah kesuksesan; sebagai tanda keberhasilan yang tercatat dalam buku; tanda kemenangan, kemuliaan dan keberhasilan. Maka, selamat bagi mereka yang melaksanakan shalat Fajar dan suramlah hari-hari mereka yang tidak memulai harinya dengan shalat Fajar. Pencerahan : Debat kusir dan dialog yang pandir akan menghilangkan ketulusan hati dan keindahan.

Tulisan Pertama Di Lauh Mahfutz

22 Juni 2010 jam 13:22


Nabi Muhammad s.a.w. bersabda, “Ketika Allah menciptakan qolam, kemudian lauh, Allah memerintahkan qolam untuk mendatangi lauh. Allah berfirman kepada qolam, “Wahai qolam”.

Qolam menjawab, “Aku sambut panggilan-Mu dan aku siap menerima perintah-Mu Ya Robbi”

Allah memberi perintah, “Tulislah pertama kali bismillāhirrohmānirrohimi”.

Ketika qolam menulis “ba” keluarlah darinya cahaya yang menyinari segala sesuatu di malakūt dari mulai ‘arsy sampai bumi. Bertanyalah qolam, “Ya Robbi ! Apakah “ba” ini ?”

Allah menjawab, “Ba ini adalah barīun liummati Muhammadin (pembebas untuk umat Muhammad)”

Allah memerintahkan pula qolam menulis “sīn”.

Ketika qolam menulisnya, keluarlah dari lekukan-lekukannya beberapa cahaya. Cahaya yang satu memancar ke ‘arsy,
yang satu ke kursi dan yang satu ke surga. Ketika qolam melihat ketiga cahaya ini, ia bertanya, “Ilahi, Apakah cahaya-cahaya ini ?”

Allah menjawab, “Ini adalah cahaya umat Muhammad ‘alahissolātu wassalām. Adapun cahaya yang memancar ke ‘arsy adalah cahaya al-sābiqīn, cahaya yang memancar ke kursi adalah cahaya al-muqtasidīn dan cahaya yang memancar ke surga adalah cahaya al-‘āsīn dan az-zōlimīn di antara mereka”.


Allah memerintahkan pula Qolam menulis “mīm”.

Ketika qolam menulisnya, keluarlah darinya cahaya yang lebih terang dan lebih bersinar dari cahaya “ba” dan “sīn” sehingga menyinari segala se-suatu dari ‘arsy sampai bumi. Terdiamlah qolam dalam ketakjuban seribu tahun. Setelah itu bertanyalah qolam, “Ya Robbi, Apakah cahaya ini ?”

Allah menjawab, ”Ini adalah Nur Muhammad ‘alaihissolātu wassalām. Dia adalah kekasih-Ku, pilihan-Ku dan rosul-Ku. Ini Sayyid seluruh nabi dan rosul. Dan tidak Aku ciptakan segala sesuatu, kecuali karenanya”.

Ketika Qolam mendengarnya maka berkeinginanlah untuk menyampaikan salam pada Nur Muhammad ‘alahissolātu wassalāmu, kemudian meminta idzin melakukannya. Kemudian berkatalah qolam, “Assalāmu ‘alaika (salam bagimu) wahai Rosūlallōh - wahai Habīballōh dan wahai Nūrollōh.

Allah berfirman, “Wahai qolam ! engkau telah menyampaikan salam kepada kekasih dan rosul-Ku padahal ia saat ini tidak ada, sedangkan apabila ia hadir pastilah ia akan menjawab salammu, karena itu Aku jawab padamu karenanya. Bagimu salam dari-Ku wahai qolam”.

Allah memerintahkan qolam menulis Allah Ar-Rohmān Ar-Rohīm.

Bertanyalah qolam, “Ya Robbi,Apakah nama-nama ini bagi-Mu ?”

Allah Yang Maha Tinggi menjawab, “Aku - Allah - untuk as-sābiqīn, Aku - Ar-Rohmān – untuk al-muqtasidīn dan Aku - Ar-Rohīm - untuk al-‘āsīn dan az-zōlimin”.


Dalam sebagian keterangan disebutkan bahwa As-Sābiqīn adalah orang yang kebaikannya amat banyak – jauh melebihi keburukannya. Al-Muqtasidīn adalah orang yang kebaikan dan keburukannya berbanding. Al-‘Āsīn adalah orang yang keburukannya jauh melebihi kebaikan yang dilakukan.


~ ***~ *** ~ *** ~ *** ~

Jauh sebelum Allah menciptakan Nabi Adam as, bahkan jauh sebelum Allah menciptakan Alam semesta, Allah sudah sangat mencintai Rasulullah saw, mencintai umat Rasulullah saw, Mencintai umat-Nya, Subhanallah.....Allahu Akbar.....!!!!

Allah sudah membuat rencana yang begitu Indah dan Akurat terhadap semua ini, dan tidak ada satu pun yang meleset dari rencana-Nya.......bukan hanya utk manusia dan makhluk lain, bahkan untuk seluruh alam, dan mereka semua mengakui beradaan dan kebesaran Allah Azza wa jalla.

Pertanyaan buat kita semua : Apakah manusia masih punya rasa malu ketika berbuat dzolim dihadapan Allah Maha Besar...???? Tempat kita semua kembali kepada-Nya, dengan membawa segala dosa-dosa kita....???? Astagfirullah, semoga Allah mengampuni dosa kita, amin.

~ *** ~

frwd from Hikayat Indah

Minggu, 17 Januari 2010

SELALU ADA JALAN KELUAR

oleh Syaikh DR.Aidh Bin Abdullah Al Qarni
Suatu masalah itu jika menyempit, maka tabiatnya ia menjadi meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar. Itulah sunnah kehidupan yang sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yang pasti terjadi. Maka, relakanlah jiwamu untuk meridhoi kondisinya. Karena, setelah kehausan pasti akan ada air. Setelah musim semi akan datang musim penghujan.

Mungkin saja betapa banyak kesedihan yang engkau keluhkan. Tapi permudahlah urusanmu. Lapangkanlah pikiranmu. Tidakkah engkau membaca firman Allah SWT " Alam nasyrah laka sadrak...." ( Bukankah kami lapangkan dadamu ). Tidakkah engkau berbahagia karena di dunia ini masih terhampar
banyak harapan. Di dunia ini masih banyak kemudahan.

Wahai yang berkeluh tentang banyak urusan. Lalu menjalani hidup serasa dalam kurungan. Sementara air matanya terus mengalir karena sedih. Sesungguhnya dalam pakaian Yusuf AS terdapat obat yang menyembuhkan kebutaan dua mata Ya'kub AS. Sesungguhnya dalam air dingin yang diguyur kesekujur tubuh, adalah kesembuhan bagi penyakit yang di derita Ya'kub AS.

Untuk rasa sakit, ada kesembuhan. Untuk penyakit, ada obat. Untuk haus, ada air. Untuk kesulitan, ada kelapangan. Dalam kesempitan, ada kebahagiaan. Dalam gelap, pasti akan ada cahaya terang. Api yang menghimpit Ibrahim Al Khalil, bisa menjadi mudah dan dingin. Lautan di hadapan Musa AS bisa terbelah dan digunakan untuk berjalan. Yunus Bin Matta AS, akhirnya keluar dari tiga gulita, karena kasih sayang Allah Al Jaliil (Yang Maha Mulia ). Rasulullah Al Mukhtar ( yang Terpilih ) pernah berada di dalam gua, dikelilingi oleh para kuffar. Hingga berkata Abu Bakar Ash Shiddiq ra, " Sesungguhnya orang-orang kafir hanya berjarak beberapa
jengkal. Kami khawatir bila terjadi kehancuran. " Berkata Rasul sang pemilik keyakinan dengan penuh ketegasan, " Sesungguhnya Allah bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita. Sebagaimana Dia telah menghimpun kita.

Katakanlah kepada orang yang tenggelam dalam putus asa dan telah terjatuh. Kepada orang yang telah patah arang dan terpuruk. Kepada orang yang ternodai pemahamannya dalam masalah taqdir. Bekerjalah dan beramallah, sesungguhnya Allah SWT justru menurunkan hujan setelah manusia putus ada terhadap hujan.

Adalah Bilal pernah terkapar di atas tanah tandus, tapi dialah yang kemudian menaiki Ka'bah Baitullah untuk mengumandangkan seruan adzan. Dialah yang memperdengarkan bumi dengan suara langit. Adalah Yusuf AS pernah lama terpenjara di balik jeruji besi. Tapi kemudian ia bisa menjadi seorang Raja Mesir setelah Al Aziz. Adalah Umar Bin Khattab ra seorang penggembala kambing di Mekkah. Lalu dialah orang yang bisa menebarkan keadilan dalam masa kekuasaannya. Lalu namanya terpahat di baju besi. Lalu dia yang memotong tali pelanggaran. Lalu dia yang suaranya menggelegar menghentak penguasa tiran.

Allah SWT pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya pasti ada keadaan lain yang Allah berikan setelah kesulitan? Allah SWT yang mematahkan tali pengikat orang-orang yang terpenjara di jeruji para penguasa otoriter. Allah SWT yang akan menghapus air mata anak-anak yatim. Apakah engkau pernah melihat orang
faqir yang selamanya tidak mempunyai uang dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya? Apakah engkau mendapati seorang tahanan selamanya berada di dalam penjara yang gelap? Tidak ada bencana yang terus menerus terjadi. Karena di sana ada Allah SWT Yang Maha Sendiri dan satu-satunya Tempat Meminta.

Siapapun yang melazimkan istighfar, maka Allah SWT akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesulitannya. Allah SWT yang akan memberinya jalan penyesalan terhadap setiap kegundahannya. Laa HAULA Wa Laa Quwwata Illa Billah, tidak ada daya dan upaya kecuali Allah SWT. Dengan kalimat itu, segala beban mampu terpikul, semua kengerian bisa terlewati,
seluruh keadaan bisa lebih baik, lebih melapangkan pikiran dan menambahkan rasa ridho kepada Allah Al Jalal.

Beritakanlah kegembiraan kepada malam, dengan datangnya waktu subuh yang menyapu gelap dari puncak gunung-gunung. Beritakanlah kegembiraan kepada musim semi dengan turunnya limpahan air hujan hingga air itu masuk ke sela-sela pasir. Beritakanlah kegembiraan kepada orang faqir dengan harta yang bisa mengusir kematian.

Ketahuilah, di setiap kesulitan itu ada jeda. Di setiap kebutuhan itu ada pertolongan. Sesungguhnya Allah SWT menghilangkan bencana dengan ketulusan do'a dan kebersihan harapan. Ketahuilah, himpitan dan kesulitan itu menghilangkan kesombongan dan terus menerus mendorong kepada dzikir, syukur dan kewaspadaan berpikir. Maka tenangkanlah hatimu jika kegalauan menerpamu. Lapangkanlah dadamu jika kesulitan menyerangmu. Jangan
putus asa terhadap apa yang telah terjadi dan telah hancur. Ketahuilah, karena tidak ada sesuatu yang abadi selama alam semesta ini berputar.

Semoga kesulitan menjadi lebih ringan bagimu, dan musibah bisa memberikan kebaikan untukmu. Jika hidupmu telah terhimpit dan tak ada lagi alas an yang bisa engkau angkat. Kembalilah kepada Allah SWT. Ketahuilah bahwa kesulitan tak pernah berlangsung terus menerus. Allah SWT pasti memandangmu dengan pandangan kasih dan sayang. Karena dunia ini tidak berada dalam satu keadaan. Karena dunia ini berwarna-warni dan beragam bentuknya. Tidak ada kengerian yang tak pernah selesai. Belenggu akan terbuka dan ikatan akan terlepas. Bersabarlah, berdo'alah dan nantikanlah jalan keluar dari Allah SWT. Ketahuilah, sesungguhnya kesulitan itu akan mampu membuka kejernihan telinga dan mata, serta menajamkan pikiran.
Kesulitan bisa memberi hikmah dan pelajaran. Kesulitan mengajarkan kemampuan untuk memikul beban dan bertahan. Kesulitan menghapuskan dosa. Kesulitan memperbanyak pahala.

Maka, mintalah perlindungan dan pertolongan Allah SWT. Setiap musibah itu mempunyai tujuan. Berapa kali kita merasa takut, lalu kita berdo'a dan meminta kepada Allah SWT. Kemudian Allah SWT menyelamatkan dan melindungi kita. Berapa kali kita di lilit lapar, lalu Allah memberi makan dan minum untuk kita. Berapa kali kita diterpa kebimbangan dan
keresahan, lalu Allah memberikan kebahagiaan dan kesenangan. Berapa kali kita terjerat dan kita hampir terjatuh dalam kehancuran. Kemudian Allah SWT memberikan jalan untuk bangkit dan berjalan.

Ketahuilah, engkau berhubungan dengan Yang Maha Lembut terhadap hamba-Nya. Yang Terkenal dengan Pemberiannya. Yang Maha Meberi untuk kebahagiaan hamba-Nya.Yang Maha Kuasa atas segala keinginan-Nya.




Rahasia di balik sholat tahajjud

Pada saat seseorang menggelar sajadah untuk menunaikan shalat tahajud, ia berada dalam kondisi layaknya orang yang melakukan meditasi dan relaksasi. jika kita pernah mendengar lirik lagu tombo ati yang didendangkan budayawan kondang emha ainun nadjib bersama kelompok musik kiai kanjeng, tahajud disebut sebagai salah satu pengobat hati. sebab shalat sunah yang ditunaikan di keheningan malam itu, mengantarkan orang yang menunaikannya menjadi lebih dekat dengan allah. hati yang dekat dengan tuhannya adalah hati yang damai.

Orang yang rindu tahajud adalah orang yang mempunyai kadar keikhlasan lebih. Ia rela untuk menghentikan kelelapan tidurnya dan
bersimpuh pada sang khalik. alquran memuji mereka dengan menyebutnya sebagai orang-orang yang menjauhkan lambungnya dari tempat peraduan.

Tahajud diketahui sebagai ibadah yang ditunaikan pada malam hari, saat setiap orang mengistirahatkan tubuhnya dari kelelahan aktivitas di siang hari. banyak kalangan menyatakan bahwa idealnya masa tidur di malam hari adalah enam hingga delapan jam. tidur di malam hari akan memberikan energi baru bagi seseorang untuk melakukan aktivitasnya di pagi hingga siang hari.

namun kemudian muncul sebuah pendapat lain dari seorang ilmuwan bernama ray meddis. ia menyatakan bahwa masa tidur yang sempurna hanyalah tiga hingga empat jam setiap harinya. seseorang akan mengalami deep slep sekitar tiga hingga empat jam saja. tentu seorang muslim mampu memanfaatkan sisa masa tidur itu untuk memadu cinta dengan tuhannya, melalui shalat tahajud.

“bangunlah untuk shalat di malam hari kecuali sedikit daripadanya. yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah alquran dengan perlahan-lahan.” (al-muzammil [73]: 2-4).

seorang ilmuwan muslim asal mesir, fadhlalla haeri, menyatakan bahwa ayat tersebut memberikan panduan bagi muslim untuk mencapai keseimbangan. di sisa masa istirahatnya, tiga jam masa efektif tidur malam, maka ia pun semestinya bangun untuk menjalankan aktivitas yang bermanfaat. bangun di waktu malam adalah salah satu aktivitas yang memberikan manfaat.

ia menambahkan, pada saat itu energi did lam tubuh seseorang berada dalam kondisi rndah. selain itu, medan refleksi juga begitu bersih. dalam tradisi india, kondisi seperti itu disebut sebagai tahap pembentukan kesadaran yang terjadi pada titik energi ketujuh atau cakra mahkota. dampaknya, akan meningkatkan intuisi seseorang dan kesadaran diri untuk mampu mengendalikan emosi negatif.

menurut haeri, pada saat seseorang menggelar sajadah untuk menunaikan shalat tahajud, ia berada dalam kondisi layaknya orang melakukan meditasi dan relaksasi atas kelenjar pineal. ini akan menspiritualkan intelektual sesorang disertai dengan kemampuan personal untuk selalu mendekatkan diri kepada allah serta menjalin hubungan yang harmonis dengan sesamanya.

tak hanya itu, pada saat matahari terbenam, kelenjar pineal mulai bekerja dan memproduksi hormon melatonin dalam jumlah besar dan mencapai puncaknya pada pukul 02.00 hingga 03.00 dini hari. hormon inilah yang kemudian menghasilkan turunan asam amino trytophan dalam jumlah besar pula.

tahukah anda? tahajud menjadi sarana untuk mempertahankan melatonin dalam jumlah yang stabil.

hormon melatonin akan membentuk sistem kekebalan dalam tubuh dan membatasi gerak pemicu tumor seperti estrogen. haeri mengungkapkan bahwa pada masa kanak-kanak melatonin yang ada di dalam tubuh berjumlah 120 picogram. namun jumlah tersebut akan semakin menurun pada usia 20 30 tahun. selain secara alamiah, pengurangan jumlah melatonin di dalam tubuh juga diakibatkan adanya pengaruh eksternal, seperti: tidur larut, medan elektromagnetik, dan polutan kimia misalnya pestisida, yang pada akhirnya menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi dan sakit kepala. pada titik tertentu bahkan menyebabkan turunnya sistem kekebalan tubuh.

kafein yang terkandung di dalam kopi, teh hitam, dan soda tertentu juga akan menyebabkan kemampuan antioksidan melatonin berkurang. keadaan ini akan membahayakan sel-sel tubuh saat seseorang tengah terjaga. dengan demikian, kata haeri, yang harus menjadi perhatian adalah bukan kuantitas tidur seseorang untuk memberikan kebugaran pada tubuh, tetapi justru kualitas tidur. tiga jam adalah waktu yang cukup untuk itu.

tahajud tidak hanya memberikan pengaruh pada posisi melatonin. gerakan ibadah di sepertiga malam terakhir ini juga memberikan pengaruh tertentu pada tubuh. setidaknya, pada saat berdiri tegak dan mengangkat takbir secara tidak langsung akan membuat rongga toraks dalam paru-paru membesar. ini akan menyebabkan banyak oksigen yang masuk ke dalamnya. ada kesegaran yang dirasakan ketika seseorang dapat menghirup udara segar ke dalam paru-parunya di keheningan malam itu. pada saat sujud, seluruh berat dan daya badan dipindahkan sepenuhnya pada otot tangan, kaki, dada, perut, leher, dan jari kaki. proses ini dilakukan berulang-ulang sesuai jumlahrakaat shalat tahajud yang kita lakukan.

setelah oksigen masuk ke dalam paru-paru, oksigen diedarkan ke seluruh tubuh dengan lancar karena adanya pergerakan otot selama ruku’ dan sujud. selain itu, dalam shalat seseorang juga melakukan gerakan duduk di antara dua sujud dan tahiyat yang menyebabkan adanya gerakan tumit, pangkal paha, jari tangan, jari kaki, dan lainnya. tentu peredaran oksigen akan menjadi lancar.

dari blog :
--> http://nakasaha.blogspot.com/2008/02/rahasia-di-balik-sholat-tahajjud.html


Rabu, 21 Oktober 2009

Pinta Seorang Istri

Kadangkala mungkin tergambar di benak fikiranmu, bahwa engkau telah salah ketika memilih diriku menjadi pasanganmu. Kadang kala ia mengganggu dalam pergaulan sehari-harimu denganku, terkadang ku takut perasaan cintamu berubah menjadi benci, limpahan kasih sayangmu menjelma menjadi kemarahan, dan ketenangan pun berubah menjadi ketegangan.
Suamiku…..
Di saat engkau masih sibuk dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai, tak jarang aku kau abaikan. Waktu di rumah pun, kadang ku ikhlaskan demi masa depanmu. Bukankah engkau tahu aku pun butuh perhatian darimu. Terkadang ku cari perhatian itu, namun terlihat salah dipandanganmu. Kalaulah itu terlihat salah, semoga engkau bisa melihat kebaikanku yang lain. Bukankah Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, “Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, “Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka.” Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. Tidaklah sepatutnya bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu, sedangkan engkau sendiri tak pernah sekalipun menghitung kekurangan dan kesalahanmu. Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.

Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan, sadarlah, sesungguhnya egois telah menguasai dirimu. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, “Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian.” Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.
Duhai Suamiku…

Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.

Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.

Wahai Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini…
Aku telah jatuh cinta kepada lelaki pasangan hidup ku,
jadikanlah cinta ku pada suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Amin ya rabbal alamin.

sumber : sigitsetiawan.wordpress.com

POTRET BATANG